Lokal

Harian Blora Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha. Semoga Kita Semua Mendapat Berkah Qurban.

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Tuesday, 13 January 2015

Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Nasional dan Pahlawan Nasional Asal Blora



Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Nasional dan Pahlawan Nasional asal Blora ini patut dipetik inspirasinya, terutama di dunia pers dan kebangkitan nasional yang paling bersejarah di Indonesia. Bagi sebagian kalangan, Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo adalah termasuk pahlawan nasional. 
 
Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo dilahirkan di Blora pada tahun 1880 dan meninggal pada 17 Agustus tahun 1918. Raden Mas, tercacat sebagai salah satu tokoh pers nasional dan juga tokoh kebangkitan nasional Indonesia. Beliau dikenal dengan sebutan T.A.S atau TAS yang menjadi perintis dunia surat kabar dan kewartawanan nasional Indonesia. Ia adalah “pahlawan nasional” dan juga “bapak pers nasional”.

Masyarakat Blora harus mengetahui sepak terjang TAS dalam dunia pers. Dari beberapa majalah, pernah mengangkatnya menjadi “bapak pers nasional”. Namun selama ini masih sedikit orang Blora yang mengetahui biografi TAS ini, padahal jasanya bagi Indonesia sangat lah besar.

Mendirikan Surat Kabar dan Sarikat Dagang Islam
TAS pernah merintis dan mendirikan beberapa surat kabar. Pada tahun 1903 sampai 1905, beliau mendirikan surat kabar dengan nama Soenda Berita. Kemudian pada tahun 1907 beliau berhasil mendirikan Medan Prijaji, juga tahun 1908, surat kabar dengan nama Putri Hindia juga ia dirikan.

Dalam sejarah, surat kabar Medan Prijaji dikenal banyak orang sebagai salah satu koran nasional pertama, karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia). Uniknya, seluruh karyawan, mulai dari wartawan, pengasuh, percetakan, penerbit adalah semua asli pribumi Indonesia.

TAS, merupakan orang pertama kali yang menjadikan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk opini umum. Ia sangat cerdas dan berani, tidak hanya kritikan, namun juga tulisan pedas berbau kecaman terhadap pemerintahan kolonial Belanda juga ia lakukan pada saat itu.

Jiwa kritis tersebut, tidak disuka oleh Belanda. Akhirnya, ia ditangkap dan dibuang dari Pulau Jawa ke Pulau Bacan. Pulau tersebut sangat terpencil, yang lokasinya berdekatan dengan Halmahera (Provinsi Maluku Utara).

Setelah sekian lama di Pulau Bacan, ia kembali ke Batavia. Ia tercacat wafat pada 17 Agustus 1918. Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo juga tercatat sebagai salah satu pendiri Sarikat Dagang Islam. Bahkan, Pramoedya Ananta Toer menulis  kisah perjuangan dan kehidupan Tirto dalam Tetralogi Buru dan Sang Pemula.

Menjadi Bapak Pers dan Pahlawan Nasional
Meskipun jarang sekali orang Blora yang tahu, namun siapa sangka Tirto yang lahir di Blora ini adalah bapak pers nasional yang juga pahlawan nasional. Pemerintah mengukuhkannya sebagai Bapak Pers Nasional Pada 1973.

Sedangkan pada tanggal 3 November 2006, Tirto mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres RI no 85/TK/2006.

Dalam buku “Zaman Bergerak” yang ditulis Takashi Shiraishi, Tirto Adhi Soerjo disebut sebagai orang bumiputra pertama yang menggerakkan bangsa melalui bahasanya lewat Medan Prijaji. Sebagai pahlawan nasional, peran TAS sangat banyak bagi Indonesia.

Dalam laporan-laporan pejabat-pejabat Hindia Belanda, terutama laporan Dr. Rinkes, Tirto  juga mendapat tempat yang banyak di sana. Penyebabnya, karena ia memiliki peran penting dalam pendirian Sarekat Dagang Islam di Surakarta bersama Haji Samanhudi, yang merupakan asal mula Sarikat Islam. Organisasi besar ini, kemudian berkembang ke seluruh Indonesia. Bahkan, Anggaran Dasar (AD) Sarikat Islam yang pertama mendapat persetujuan Tirto Adi Soerjo sebagai ketua Sarikat Islam di Bogor dan sebagai redaktur suratkabar Medan Prijaji di Bandung.

Tak hanya itu, kisah perjuangannya juga dikenang oleh Ki Hajar Dewantara pada 1952. Dalam catatanya, Ki Hajar Dewantara mencatat tentang diri Tirto sebagai berikut; “Kira-kira pada tahun berdirinya Boedi Oetomo ada seorang wartawan modern, yang menarik perhatian karena lancarnya dan tajamnya pena yang ia pegang. Yaitu almarhum R.M. Djokomono, kemudian bernama Tirtohadisoerjo, bekas murid STOVIA yang waktu itu bekerja sebagai redaktur harian Bintang Betawi (yang kemudian bernama Berita Betawi) lalu memimpin Medan Prijaji dan Soeloeh Pengadilan. Ia boleh disebut pelopor dalam lapangan journalistik.”

Selain dikenal berani, jasa Tirto di bidang pers memang tak bisa dilupakan. Pada tahun 1958, Sudarjo Tjokrosisworo dalam bukunya Sekilas Perjuangan Suratkabar menggambarkan Tirto sebagai orang yang sangat pemberani. Sudarjo menjelaskan, Tirto merupakan wartawan Indonesia yang pertama kali menggunakan surat kabar sebagai pembentuk pendapat publik. Ia juga berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap kolonial Belanda. (Laporan Khusus Redaksi Harianblora.com/Foto: TAS). Baca juga Tokoh-tokoh Inspiratif dari Blora.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Nasional dan Pahlawan Nasional Asal Blora Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora