Lokal

Harian Blora Mengucapkan Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2017. Semoga kita semua bisa menjadi guru bagi diri sendiri dan keluarga yang bisa digugu dan ditiru.

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Wednesday, 25 February 2015

Batu Akik di Blora Kudus Demak Pati Rembang Semarang dan Jawa Tengah Mulai Demam Tinggi



Blora, Harianblora.com - Batu Akik di Blora, Kudus, Demak, Pati, Rembang, Semarang, dan Jawa Tengah mulai demam tinggi sejak akhir tahun 2014 sampai sekarang awal 2015. Tak hanya kalangan tua, namun banyak pemuda, perempuan dan remaja juga mulai tertartik batu mulai atau yang akrab disebut batu akik tersebut.


Saat ini, jenis batu akik seperti kecubung, badar besi, safir, amethyst, combong, ruby hingga kalimaya sudah ramai dibicarakan publik, terutama di daerah Blora, Pati, Rembang, Demak, Kudus dan di wilayah Jawa Tengah pada umumnya.

Jika dulu batu akik identik dengan mistis, perdukunan, orang jadul, kuno, antik, namun saat ini batu akik sudah dianggap sebagai barang mewah dan bisa dibeli dengan uang tanpa mempertimbangkan aspek klenik atau mistisme.

Kabupaten Pati tak lama ini juga menggelar pameran batu perhiasan yang dikemas dalam Pati Visit Expo 2015 yang mempromosikan Batu Jalasutra asal Pegunungan Kendeng yang ramai dikunjungi para pecinta batu akik, baik dari Pati sendiri dan luar daerah.

Salah satu kolektor batu akik, Ahmad Sauqi Rozak (29) di Blora, mengaku saat ini batu akik sudah menjadi barang mewah dan mahal. Menurut dia, karena pengaruh media massa, banyak orang yang awalnya tidak suka dan tidak tahu, kini sudah tergoda dengan batu akik.

Lebih aneh lagi, kata Sauqi, saat ini yang tertarik juga para pejabat dan bupati serta orang-besar. "Kemarin di Pati ada pameran batu akik, sebentar lagi di Semarang. Jika dulu kan cuma Tessi yang pakai sampai di semua tangan, itu dianggap aneh, tapi nyatanya sekarang hampir orang yang suka batu akik juga pakai di semua jarinya," beber dia.

Bahkan, menurut Sauqi, batu akik kini menjadi sorotan publik yang mendatangkan berbagai fenomena, seperti ekonomi. “Saya dengar kabar beberapa waktu lalu, kalau jual beli batu akik nanti akan dikenakan pajak,” jelas dia, Selasa (24/2/2015). Hal itu menurut dia memang wajar, namun pajak tersebut harus jelas, karena saat ini banyak batu akik palsu atau aspal. (Baca: Cara Membedakan Batu Akik Asli dan Palsu dengan Mudah).

Jika dulu orang masih memperdebatkan animisme dan dinamisme, lanjut dia, namun saat ini yang penting ada uang ada batu akik, orang bisa mengoleksinya. “Kemarin saya juga dapat pesanan dari Ngawi, katanya cari yang dari hutan atau kuburan. Entah dibuat apa saya kurang paham,” beber pria tersebut.

Melebihi Harga Emas
Memang edan, kata dia, harga batu akik justru melebihi emas. “Ini memang fenomena luar biasa dan di luar akal sehat,” tandas dia.

Menurut Ali Muhson, warga Mranggen Demak, batu akik sebenarnya sudah demam sejak dulu. “Namun karena diekspos media, jadi batu akik yang awalnya tidak terlalu ramai kini mulai diburu para warga dari berbagai kalangan,” tutur lulusan UIN Walisongo Semarang tersebut kepada Harianblora.com, Selasa (24/2/2015).

Menurut Muhson, sapaannya, batu akik dulu sering dipakai di lingkungan santri. “Namun ya asal pakai, tidak seperti sekarang menjadi bahan perbincangan dengan berbagai sudut pandang,” beber pria tersebut. Uniknya, kata Muhson, harga batu akik sekarang itu jutaan. "Mungkin besuk-besuk harganya melebihi intan dan permata," tuturnya.

Tak hanya Muhson, warga Blora, Jusni (34) juga mengakui di Kabupaten Blora saat ini ramai membicarakan batu akik. “Saya kira memang sudah menjadi bahan unik, langka dan mewah bahkan batu akik sudah menjadi gaya hidup,” beber pria tersebut.

Ia juga termotivasi untuk membeli. “Saya sudah punya dua macam, jenis Bacan dan katanya yang paling mahal itu jenis Badar Sulaiman yang ada khadamnya,” tukas dia.

Di Tegal, menurut Izmi Naula warga Tegal juga demikian. “Wah, sudah ramai sejak tahun 2014 lalu,” jelas lulusan UIN Walisongo Semarang tersebut. Menurut dia, tak hanya kaum laki-laki, di Tegal juga banyak perempuan mulai tertartik dan memakai batu akik dengan cara ditempelkan atau dibuat asesoris di kalung maupun anting.

Mahasiswa yang dikatakan sebagai kaum intelektual juga mulai memakai batu akik, salah satunya adalah Hakim Alif Nugroho, mahasiswa Undip asal Pati. “Saya pakai karena saya tertarik,” jelas dia kepada Harianblora.com.

Menurutnya, meskipun banyak orang meyakini akik dengan berbagai macam alasan, batu akik tetaplah batu yang tidak ada kekuatannya. “Kalau dulu yang pakai itu cuma orang-orang tertentu, kayak dukun, orang tua, namun sekarang ya bisa dipakai semua kalangan. Karena batu akik menurut saya tidak ada hubungannya dengan klenik-klenik semacam itu,” bebernya. (Laporan Khusus Harianblora.com).

Beberapa foto-foto batu akik yang digemari di Blora, Pati, Demak, Kudus dan di Jawa Tengah.


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Batu Akik di Blora Kudus Demak Pati Rembang Semarang dan Jawa Tengah Mulai Demam Tinggi Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora