Lokal

Harian Blora Mengucapkan di Tahun Politik 2018-2019 ini mari kita jaga perdamaian di Blora .

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Tuesday, 17 March 2015

Demam Batu Akik dan Potensi Ekonomi



Oleh Hamidulloh Ibda
Pegiat Kajian Filologi di Pascasarjana Universitas Negeri Semarang
Tulisan ini diambil dari Opini Koran Pagi Wawasan Selasa 17 Maret 2015
 
Demam tinggi batu akik. Demikian kondisi masyarakat Jawa Tengah yang kini membicarakan, memburu, mencari, memamerkan, melombakan, bahkan membeli dan mengoleksi batu akik meskipun dengan harga miliaran rupiah. Demam batu akik seharusnya menjadi momentum untuk mengampanyekan potensi lokal dan menduniakan khazanah budaya Jateng.

Kondisi tersebut tidak sekadar fenomena ekonomi dan kapital, namun juga pergeseran zaman, benturan antara zaman rasional dan “zaman batu” serta mistisme. Di Jateng, demam batu akik tak hanya di desa-desa, namun kini merambah di kota besar seperti Kota Semarang.

Dulu, batu akik identik dengan dunia mistis, klenik, perdukunan dan hanya dipakai orang-orang tertentu yang dinilai kuno, jadul dan kampungan. Namun saat ini justru berbalik arah. Sebab, batu akik kini dinilai sebagai “ukuran kekayaan” bahkan sudah menjadi “gaya hidup”.

Orientasi memakai batu akik juga karena motif “tuah”. Khoirul Waro (2015) menjelaskan tuah pada batu akik adalah pada unsur kesaktian, keramat, atau pengaruh yang mendatangkan keuntungan, kebahagiaan dan keselamatan. Ketika orang memakai batu akik, maka ada kepercayaan yang memakai akan selamat dan lebih berwibawa. Bahkan, derajat estetik pemakai akan semakin tinggi.

Demam batu akik tentu tidak hanya membawa dampak positif, namun juga dampak negatif. Mengapa? Dengan adanya penggiringan isu batu akik, banyak sekali “penjual dadakan” memasak batu dari kaca dan mengaburkan yang palsu dengan batu asli.

Fenomena ini jangan sampai “numpang lewat” seperti beberapa waktu lalu, yaitu saat demam bunga Gelombang Cinta dan ikan Louhan yang hilan ditelan zaman. Pasalnya, pemeritnah tidak memanfaatkan demam itu untuk mengangkat potensi lokal sebagai wahana mendongkrak ekonomi dan penghasilan daerah.

Pergeseran
Batu akik yang dulu dikenal orang sebagai benda sakral seperti keris, jimat, namun kini ukurannya adalah kapital atau kekayaan. Sakralitas batu akik kini “terbeli” dengan rupiah asal berani membayar tinggi sesuai dengan jenis batu. Bahkan, sebagian masyarakat menilai demam batu akik kini menunjukkan kita sedang kembali kepada “zaman batu”, padahal saat ini kita hidup di era modern, berbasis rasio dan sesuai cara berpikir ilmiah serta logika.

M Junaidi Al Anshori (2010) menjelaskan zaman batu terbagi atas empat periode, yaitu zaman batu tua (palaeolithikum), zaman batu muda (mesolithikum), zaman batu muda (neolithikum) dan zaman batu besar (megalithikum). Seharusnya demam tersebut membuka pori-pori ekonomi dan menduniakan potensi lokal di Jateng. Apalagi saat ini kita hidup di dunia teknologi yang serba canggih yang berbeda dengan zaman batu saat itu.

Zaman dulu, orang yang memakai batu akik harus memakai ritual tertentu, seperti membakar kemenyan, membaca doa-doa dan memberi makanan batu akik tersebut dengan bunga tujuh rupa. Hal itu diyakini memiliki kekuatan gaib pada batu tersebut. Kasidi Hadiprayitno (2013) menyatakan semua benda-benda seperti wayang, keris, tombak, batu akik, dalam kepercayaan Jawa diyakini memiliki kekuatan tersendiri. Maka tidak heran orang kuno dulu yang memakai batu akik harus memenuhi syarat ritual tertentu.

Ahmad Fauzi (2014) menjelaskan setiap benda dalam perspektif antropologi tidak memiliki kekuatan gaib, seperti jin, roh-roh halus dan sebagainya. Namun inti dari setiap benda yang terkecil setelah partikel adalah pikiran. Jika saat ini pikiran manusia sudah terpengaruhi oleh gemerlap batu akik, banyak orang-orang memburu benda tersebut tanpa mempelajari sejarah, substansi, filosofi dan maknanya.

Mistisme dan aura klenik pada batu akik kini tidak lagi terlalu dipercaya. Batu akik kini sebagian besar hanya dimaknai dari jenis, unik, langka dan energinya. Adagium “bertuah” memang sudah ada sejak dulu, akan tetapi sekarang bergeser dan dimainkan para “mafia harga” batu akik. Mengapa? Banyak orang yang tidak kenal dan cinta pada batu akik, namun sekarang justru memburu dan membelinya.

Demam batu akik membawa berkah pada kolektor dan pengrajin batu akik. Selain itu, dunia penelitian juga semakin berkembang, sebab dengan adanya demam batu akik, akan semakin banyak penelitian cagar budaya dan arkeologi. Hal itu juga harus diperhatikan pemegang kebijakan, jangan sampai ada penambang liar mencari batu akik yang justru merusak alam.

Potensi Ekonomi
Di Jateng sendiri, beberapa bulan terakhir sampai saat ini masih ramai membicarakan batu akik. Tidak hanya kalangan bawah, namun batu akik juga menarik perhatian bupati, walikota, pejabat tinggi bahkan presiden. Banyak lomba, festival dan pameran batu akik mulai digelar di berbagai daerah, salah satunya di Kota Semarang.

Pada 25 Februari 2015 sampai 1 Maret 2015 digelar Pameran dan Lomba Batu Mulia Indonesia di Pasaraya Sri Ratu di jalan Pemuda Semarang yang memperebutkan Piala Walikota Semarang (SM, 26/2/2015). Pada 26-27 Februari 2015 juga digelar Pameran dan Talkshow Bedah Bisnis Batu Akik yang diselenggarakan Sentra UMKM di gedung Bank BPD Jateng.

Sebelumnya, di Kabupaten Pati juga digelar Pati Visit Expo 2015 yang memamerkan batu-batuan unik dan memiliki nilai seni tinggi. Salah satu jenis batu akik yang menjadi andalan adalah Jalasutra yang hanya terdapat di Pegunungan Kendeng.

Demam batu akik seharusnya dimanfaatkan Pemerintah Provinsi Jateng dan seluruh kabupaten/kota di Jateng untuk mengangkat potensi lokal. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama; pemerintah perlu menggelar banyak lomba dan pameran batu akik dengan tujuan mengangkat local wisdom, potensi daerah dan mengampanyekan produk lokal. Mengapa? Jangan sampai masyarakat Indonesia sendiri memakai dan mencintai batu akik produk luar negeri daripada produk lokal.

Kedua; jika produksi batu akik dikembangkan, diinovasi serta distandardisasi berkualitas internasional, maka potensi ekonomi batu akik mampu menjadi elemen penguat Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Sebab, saat ini batu akik menjadi fenomena unik dan jangan sampai hanya “numpang lewat”.

Ketiga; pemerintah perlu mendukung perajin dan kolektor batu akik untuk meningkatkan produksi batu akik. Jika serius dikembangkan, batu akik berpotensi menjadi “bahan ekspor” tingkat dunia. Secara otomatis, potensi ekonomi dan budaya lokal Jateng dan Indonesia juga akan dikenal di dunia.

Keempat; selain batu akik jenis bacan doko, badar besi, pemerintah juga perlu mengangkat batu akik lokal. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jateng harus mengembangkan potensi batu akik dari Jateng sendiri, seperti di Kabupaten Purbalingga, Kebumen dan juga daerah lain. Selain batu akik khas Purbalingga yakni batu Darah Kristus atau Nogo Sui dari Sungai Klawing juga banyak batu akik di daerah lain. Misalnya di daerah Pati yang ada batu akik Jalasutra yang hanya ada di daerah pegunungan Kendeng.

Batu akik lokal, sebenarnya bisa menyaingi batu akik yang termahal di dunia seperti Jeremejevite, Black Opal, Red Beryl Emerald, Musgravite, Grandidierite dan Blue Garnet. Hal itu bisa dilakukan jika keunikan, nilai estetik dan aura energi batu lokal dipamerkan, dipasarkan dan didukung media massa. Pasalnya, batu akik lokal di Jateng sebenarnya jauh lebih tinggi derajat estetiknya daripada batu lain.

Masyarakat juga harus cerdas saat membeli batu akik. Pasalnya, kolektor sejati tidak mudah terpengaruh dengan kondisi pasar, sebab semua batu akik memiliki harga dan karakter masing-masing.

Demam batu akik harus membawa berkah bagi semua kalangan. Tak hanya perajin, kolektor, dan pemerintah, namun masyarakat Jateng harus mendapat berkah. Caranya adalah memaksimalkan peran pemerintah untuk “menduniakan” batu akik Jateng.

Jika sudah memiliki semangat batu akik, yaitu spirit keindahan di dalam jiwa masyarakat, maka meskipun tidak memakai batu akik, secara rohani mereka akan memiliki jiwa keindahan. Secara produk lokal, Jateng juga akan dikenal sebagai gudang akik. Tak heran jika nanti warga Jateng bertemu dengan warga lain dengan percaya diri berkata “ini batu akikku, maka batu akikmu?”
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Demam Batu Akik dan Potensi Ekonomi Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora