Lokal

Harian Blora Mengucapkan di Tahun Politik 2018-2019 ini mari kita jaga perdamaian di Blora .

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Saturday, 7 March 2015

Guru Revolusioner adalah Guru Komplit dan di atas Profesional



Semarang, Harianblora.com – Guru revolusioner adalah guru komplit dan di atas profesional. Ia tak sekadar cerdas, memiliki IPK tinggi saat wisuda, namun di dalam jiwa dan hatinya terdapat spirit dan ruh tinggi untuk mengubah pendidikan secara mendasar dan menyeluruh. Selain rajin meneliti, guru revolusioner itu ya rajin menulis, melek IT, selalu belajar dan di dalam jiwa dan pikiran serta hatinya tersemat perubahan secara mendasar dan menyeluruh.

Hamidulloh Ibda (tengah) saat menjelaskan isi buku
“Ia mengubah wajah pendidikan menjadi bercahaya dan berseri-seri,” ujar Hamidulloh Ibda, saat acara Diskusi dan Bedah Buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner, Jumat (6/3/2015) sore yang digelar secara lesehan.

Guru revolusioner itu, kata Ibda, awal mulanya muncul zaman Tan Malaka. "Revolusi yang saya buat rujukan di buku ini ya meliputi revolusi industri, aufklarung, renaissance, revolusi nasional Indonesia, sampai idiom ubermens dan rausyanfikr," beber dia.

Diskusi dan bedah buku tersebut merupakan agenda yang diselenggarakan oleh bidang PTKP Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Tarbiyah Walisongo Semarang di gedung Graha Bina Insani Korkom Walisongo Semarang.

Menurut Ibda, saat ini guru-guru masih kaku dan hanya berpatokan pada UUGD 2005. “Guru revolusioner itu memang langka, dan dalam buku ini sudah saya jelaskan. Meskipun terkesan memaksa, namun saya optimis dengan buku ini akan memotivasi semua mahasiswa dan guru untuk terus belajar, belajar dan menciptakan perubahan mendasar dan menyeluruh dimulai dari pendidikan,” beber Direktur Utama Forum Muda Cendekia (Formaci) Jawa Tengah tersebut.

Selain mendekonstruksi makna dan epistemologi revolusi serta revolusioner, Ibda dalam diskusi tersebut juga membongkar kesalahan pendidikan selama ini. “Banyak sekali makna subhat mulai dari pendidikan, pembelajaran, guru, peserta didik, anak didik, siswa, pelajar dan sebagainya,” tukas dia.
Kalau mau jadi guru, lanjut dia, hal utama yang harus diketahui adalah paradigma paratekenis. “Setelah itu, baru belajar tentang paradigma didik dan paradigma ajar,” tegas dia. Kalau pengertian paratekenis saja tidak tahu, ya pasti muridnya kacau lah.

Di sela-sela agenda, banyak peserta yang bertanya, mengapa guru revolusioner harus guru SD. Dengan tegas, Hamidulloh Ibda menjawab bahwa guru ada adalah guru semua guru. “SD itu pendidikan dasar, melandasi semua jenjang pendidikan selanjutnya. Kalau di SD gagal, ya SMP, SMA dan perguruan tingginya nanti bisa gagal. Begitu pula sebaliknya. Banyak profesor bilang, kalau mendidik anak SD itu lebih sulit dan susah daripada mendidik mahasiswa. Kalau tidak percaya, silahkan coba sendiri,” beber mahasiswa Pendidikan Dasar Pascasarjana Unnes tersebut.

Kan sudah jelas, lanjut Ibda, bahwa guru itu guruku, gurumu dan guru kita semua.

Muhammad Mahmudi selaku pembedah buku juga menuturkan, menjadi guru itu bisa mudah dan sulit. “Kalau di dalam buku ini, menjadi guru sangat mudah kalau ada niat, keseriusan tinggi, motivasi mengabdi tanpa mengejar recehan dan tidak salah jurusan saat kuliah. Kalau guru SD ya harus lulusan PGSD,” beber pengurus HMI Komisariat Tarbiyah Walisongo Semarang tersebut.

Mahmudi juga memberi kritik dan saran atas buku yang terbit pada Hari Guru tersebut. “Banyak kekurangan dan kelebihan dalam buku ini. Namun penulis sengaja dan ikhlas untuk mengajak semua guru untuk menjadi insan revolusioner,” beber aktivis tersebut. (Red-HB38/Foto: HMI). Baca juga: HMI Bedah Buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner?
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Guru Revolusioner adalah Guru Komplit dan di atas Profesional Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora