Lokal

Harian Blora Mengucapkan Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2018.

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Sunday, 29 March 2015

Pramoedya Ananta Toer Adalah Bapak Sastra Indonesia



Blora, Harianblora.com – Pramoedya Ananta Toer cocok jadi Bapak Sastra Indonesia. Hal itu diungkapkan Direktur Utama Forum Muda Cendekia (Formaci) Jawa Tengah Hamidulloh Ibda saat mengunjungi Perpustakaan PATABA Blora, Sabtu (28/3/2015) bersama beberapa aktivis dan pecinta sastra dari Jakarta, Kudus, Banyumas dan Semarang serta Blora.

Pengagum Pramoedya Ananta Toer saat berfoto dengan Susilo Toer adik Pram di Perpustakaan PATABA Blora.

Menurut Ibda, Pram adalah sosok yang tidak terlalu dikenal masyarakat Blora, namun namanya sangat terkenal di kalangan sastrawan di tingkat nasional bahkan internasional. “Memang Pram hanya tamat SD, namun Pram banyak menerjemahkan karangan ke dalam berbagai bahasa asing,” ujar dia.

Peneliti Bahasa Indonesia dan Sastra dari Program Pascasarjana Unnes itu mengakui, Pram merupakan sosok Bapak Sastra Indonesia. “Selain punya Bapak Pers Nasional, Blora juga punya Bapak Sastra Nasional ataupun Bapak Sastra Indonesia,” ujar warga Blora tersebut.

“Banyak karya Pram yang saya sukai. Sepeti Arus Balik, Bumi Manusia, Rumah Kaca, Sang Pemuda, Anak Semua Bangsa, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu dan sebagainya,” ujar Ibda.
Selain karya yang mengguncang dunia, kata Ibda, alasan Pram jadi Bapak Sastra Indonesia adalah ia adalah sosok yang menginspirasi. “Selain unik, kontroversial, sosok Pram bagi saya adalah sosok revolusioner dan menginspirasi,” tandas pria dari satu anak tersebut.

Pramoedya, kata Ibda, sudah banyak melahirkan karya yang sangat luar biasa. “Kan Pram sudah jelas menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Ini prestasi dunia, tingkat internasional, sangat logis dan rasional jika Pram itu disebut Bapak Sastra Indonesia,” tukas penulis buku Demokrasi Setengah Hati tersebut.

Saya bukan Pramis atau penganut Pram Is Me, kata Ibda, namun saya menilai Pram dari dalam sesuai kata Pak Susilo Toer. “Pokoknya, Pramoedya Ananta Toer adalah Bapak Sastra Indonesia,” pungkas dia.

Tak sendirian, dalam kunjungan tersebut, hadir juga mantan Penasihat Menteri Dalam Negeri RI Prof M Yudhie Haryono, M.Si, Ph.D, Tajudin perwakilan dari Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW) UIN Walisongo Semarang, Ali Zainul Sofan fungsionaris Forum Muda Cendekia (Formaci) Jateng, Presiden BEM Fakultas Ushuludin UIN Walisongo juga Pak Puji pecinta sastra dari Banyumas dan mahasiswa UIN Walisongo Semarang dan Indra Bagus Kurniawan Pemimpin Umum Harian Blora.

Dalam kesempatan tersebut, Susilo Toer juga menyampaikan bahwa orang boleh menilai Pram dari mana saja. “Pram itu satu, tapi tafsirannya bisa seribu, jadi mau mengatakan Pram itu PKI, sastrawan, pemberontak bahkan pahlawan sekalipun, Anda punya hak sendiri,” ujar dia.

Para aktivis dan pecinta satra yang berkunjung ke Perpustakaan PATABA atau Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa tersebut juga membeli buku-buku Pak Sus, yaitu Pram dari Dalam dan Pram dalam Kelambu yang baru saja dirillis beberapa waktu lalu. (Red-HB12/Foto: Harianblora.com).

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

1 comments:

  1. Saya tertarik dan senang dengan artikel Anda.
    Saya juga punya artikel yang menarik dan anda bisa akses di Pengembangan Bahasa dan Sastra

    ReplyDelete

Item Reviewed: Pramoedya Ananta Toer Adalah Bapak Sastra Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora