Lokal

Harian Blora Mengucapkan Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2017. Semoga kita semua bisa menjadi guru bagi diri sendiri dan keluarga yang bisa digugu dan ditiru.

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Thursday, 16 April 2015

Situs Ngandong Kabupaten Blora Sebagai Media Pembelajaran Kehidupan Awal Manusia

Oleh : Nurkhasanah Eka Riyani
Penulis Merupakan Juara 1 BCB Tingkat Nasional Tahun 2013  


Situs Ngandong 
Ngandong yang secara administratif berada di Kabupaten Kabupaten Blora adalah  kawasan yang harus dilindungi dan dikembangkan karena merupakan situs cagar budaya. Hal itu berdasarkan Undang-undang No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya Pada Bab 1 Pasal 1 ayat 1 yang menjelaskan bahwa:

“Cagar Budaya adalah Warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaanya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.” (2010: 4)
    

Penemuan Homo Soloensis oleh Ter Haar menunjukkan bahwa situs ngandong berpotensi untuk dapat dikembangkan sehingga masyarakat pun dapat mempelajari kehidupan awal manusia melalui situs ini.  Hal ini bertambah menarik untuk dipelajari dengan adanya penemuan alat-alat penunjang kehidupan Homo Soloensis dan pemilihan tempat tinggal bagi mereka yaitu di DAS Bengawan Solo karena daerah ini dekat dengan sumber air.
 

Homo Soloensis
Homo Soloensis adalah manusia yang ditemukan di situs ngandong yang berada di daerah aliran sungai Bengawan Solo oleh Ter Haar pada tahun 1931-1936 bersama dengan Oppenoorth dan Von Koenigswald. Manusia jenis ini dianggap sebagai jembatan antara Homo Erctus menjadi Homo Sapiens. Evolusi manusia purba menjadi manusia modern jenis Homo Sapiens masih menimbulkan tanda tanya. Ada dua kemungkinan yaitu Homo Erectus berevolusi ke Homo Sapiens atau lebih sering disebut dengan Teori Multi-regional maupun anggapan bahwa Homo Erectus digantikan oleh Homo Sapiens atau lebih sering disebut dengan Teori Out of Africa – replacement.

Kemungkinan yang terjadi adalah Homo Erectus yang punah maupun hampir punah tergantikan oleh Homo Sapiens. Untuk berevolusi manusia membutuhkan waktu selama 1,5 juta tahun, namun rentan waktu antara kemunculan Homo Erectus dengan Homo Sapiens hanya berkisar selama 100.000 tahun. Waktu yang relative singkat ini tidak dapat dikatakan sebagai evolusi. Manusia jenis Homo Soloensis yang ditemukan di Ngandong muncul diantara kemunculan manusia Homo Erectus dan Homo Sapiens. Hal ini dapat dikatakan sebagai missing link.

Sehingga dengan penemuan manusia jenis Homo Soloensis ini situs Ngandong dapat digunakan sebagai media Pembelajaran Kehidupan Awal Manusia.
 

Artefak
Menurut M. Habib Mustopo, dkk. dalam bukunya yang berjudul Sejarah 1 menjelaskan bahwa “artefak adalah sumber sejarah berupa peninggalan benda-benda, antara lain : fosil, peralatan hidup, perhiasan, prasasti, candi, stupa, foto, patung, dan bangunan.” (2010: 78) Pada Kebudayaan Ngandong ini telah ditemukan artefak pula yang berupa alat-alat dari batu dan tulang seperti kapak genggam dari batu dan flakes, serta belati, ujung tombak yang semuanya berasal dari tulang binatang dan juga alat dari tanduk menjangan yang diruncingkan dan duri ikan pari. Alat-alat yang ditemukan di Ngandong mewakili satu kebudayaan yaitu kebudayaan tulang. Jenis-jenis alat yang ditemukan di Situs Ngandong maka dapat diketahui bahwa cara hidup manusia Homo Soloensis adalah dengan berburu dan mengumpulkan makanan.
 

Kondisi Situs Ngandong Saat Ini 
Sedikitnya minat untuk mengembangkan Situs Ngandong Kabupaten Blora Sebagai media pembelajaran menyebabkan situs ini tidak ada yang merawat  dan tidak terpelihara. Situs Ngandong yang menyatu langsung dengan alam menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya praktik perdagangan fosil yang ditemukan di situs ini. Masyarakat sekitar yang kurang mengetahui tentang manfaat fosil yang ditemukan di sana serta minimnya peraturan yang di terapkan di sekitar situs akan meningkatkan kekhawatiran ini. Padahal apabila kita mau mempelajari, Situs Ngandong akan sama berharganya dengan Situs Sangiran maupun Situs Patiayam yang kini sedang dikembangkan. Peran juru pelihara situs juga sangat dibutuhkan dalam usaha pemeliharaan situs Ngandong ini. Menurut UU no 11 tahun 2010 tentang cagar budaya pasal 62 ayat 1 “ Pengamanan cagar budaya sebagai mana dimaksud dalam pasal 61 dapat dilakukan oleh juru pelihara dan / atau polisi khusus” Tidak adanya kesadaran dari masyarakat sekitar mengenai pemeliharaansitus ini, menuntut adanya seorang juru pelihara situs untuk menjaga situs ini upaya terawat dan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya agar tetap dapat digunakan sebagai media pembelajaran.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Situs Ngandong Kabupaten Blora Sebagai Media Pembelajaran Kehidupan Awal Manusia Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora