Harian Blora menerima rilis tulisan baik berupa berita, juga opini, cerpen dan puisi. Naskah silahkan kirim ke redaksiharianblora@gmail.com

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Saturday, 15 April 2017

Ini Perbedaan EYD dan Ejaan Bahasa Indonesia


suasana training jurnalistik di MA Madarijul Huda

Pati, Harianblora.com – Puluhan pelajar Madrasah Aliyah (MA) Madarijul Huda Kembang, Dukuhseti, Pati, diharuskan mengerti perubahan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) menjadi Ejaan Bahasa Indonesia (EBI). Selain para pelajar juga harus mampu menerapkan ilmu jurnalistik serta literasi. Hal itu dijelaskan Hamidulloh Ibda, dosen STAINU Temanggung dalam pelatihan jurnalistik di gedung MA Madarijul Huda, kemarin, yang diikuti puluhan pelajar.

Dalam pengantarnya, Ummi Fadhilatin, guru pembimbing, menegaskan bahwa kegiatan tersebut dalam rangka follow up sebelum menerbitkan majalah Tabligh yang diproduksi MA Madarijul Huda Kembang. “Ini merupakan langkah follow up agar adik-adik bisa mengerti lebih dalam tentang kerjurnalistikan,” beber dia

Sementara itu, saat menyampaikan materi, Hamidulloh Ibda menandaskan sejumlah materi. Mulai pengenalan Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) sebagai pengganti Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD), manajemen redaksi, rubrikasi, sampai dengan pemetaan berita, informasi, isu, berita hoax, fake dan lainnya.

“Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan atau EYD itu sekarang tidak dipakai lagi, karena sudah diganti dengan Ejaan Bahasa Indonesia atau EBI sejak 2015,” beber Ibda yang juga alumnus MA Madarijul Huda tersebut.

Ibda juga menegaskan, bahwa semua masyarakat Indonesia wajib beriman dan bertakwa pada
Ejaan Bahasa Indonesia (EBI). “Total bahasa di Indonesia 742, data ini sampai 9 September 2016 dari Pusat Bahasa,” beber dia.   

Ia juga menjelaskan, sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (PUEYD) diganti dengan nama Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang penyempurnaan naskahnya disusun Pusat Pengembangan dan Pelindungan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dengan ajaan baru bernama Ejaan Bahasa Indonesia (EBI).

Lalu, kata dia, apa itu EBI. “Ejaan Bahasa Indonesia (disingkat EBI) adalah ejaan bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 2015 berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Ejaan ini menggantikan Ejaan yang Disempurnakan,” ujar dia.

Menurut dia, ada beberapa perbedaan EYD dan EBI. Pertama, penambahan huruf vokal diftong. Pada EYD, huruf diftong hanya tiga yaitu ai, au, oi, sedangkan pada EBI, huruf diftong ditambah satu yaitu ei. (misalnya pada kata survei, seprei). Kedua, penggunaan huruf kapital. Pada EYD tidak diatur bahwa huruf kapital digunakan untuk menulis unsur julukan. Sedangkan dalam EBI, unsur julukan tidak diatur ditulis dengan awal huruf capital, misal raja dangdut, bumi mina tani, pendekar aswaja, kota batik, kota ukir dan lainnya.

Ketiga, penggunaan huruf tebal. Dalam EYD, fungsi huruf tebal ada tiga (menuliskan judul buku, bab, dan semacamnya, mengkhususkan huruf, serta menulis lema atau sublema dalam kamus. Dalam EBI, fungsi ketiga dihapus. “EBI ini masih baru, dan masih jarang yang tahu, jangankan pelajar, banyak kok dosen dan mahasiswa kalau EYD itu sudah diganti,” beber dia.

Ia juga menuturkan, ada beberapa orang yang patut menjadi anutan bahasa. “Mereka adalah Presiden dan Wakil Presiden, para menteri, pemimpin lembaga tinggi, pemimpin ABRI, guru dan dosen, wartawan, sekretaris dan pengonsep pidato serta pemuka agama dan tokoh masyarakat,” urainya.

Pria kelahiran Pati tersebut juga menuturkan, bahwa perkembangan dunia jurnalistik dan media massa yang begitu pesat, mengharuskan para pelajar harus melek literasi. “Literasi itu tidak hanya urusan kemampuan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, menulis dan membaca, melainkan juga berupa ilmu untuk mendapatkan pengetahuan serta kemampuan menyeleksi informasi,” kata dia.

Oleh karena itu, lanjut dia, pelajar yang budayanya viral dan termasuk generasi milenial harus melek literasi. “Kalau sudah melek literasi, maka kalau ada berita hoax seperti apapun tidak akan mudah terbodohi,” tegas dia.

Sementara itu, untuk menghasilkan majalah yang baik, haruslah memegang teguh kaidah jurnalistik dan memiliki karakter. “Kalau yang mau bagus ya harus punya karakter, menjaga konten dan jelas segmentasinya. Tapi karena ini di bawah naungan sekolah, cobalah sekali-kali ganti tema yang tidak monoton pendidikan saja, bisa sejarah desa, profil kiai, dan berbagai legenda menarik dan itu mengenalkan potensi lokal,” lanjut mantan Pemimpin Umum Majalah Tuntas tersebut.

Di akhir kegiatan, ia juga mengajak para pelajar tersebut untuk praktik menulis feature sebagai genre yang dikembangkan oleh berbagai majalah. “Kalau sudah terbiasa menulis feature, saya yakin Anda akan mudah menulis berita ringan dan artikel,” urainya. (Red-HB99).
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Ini Perbedaan EYD dan Ejaan Bahasa Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora