Harian Blora menerima rilis tulisan baik berupa berita, juga opini, cerpen dan puisi. Naskah silahkan kirim ke redaksiharianblora@gmail.com

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Tuesday, 20 September 2016

Pripun Kabare Ludruk Le?

Ilustrasi: Pentas Ludruk. (Foto: www.indonesiakaya.com).
Oleh Sifa Fauzia
Penulis merupakan Pemerhati Budaya

Di zaman teknologi yang canggih seperti saat ini hampir sebagian kalangan kawula muda tak mengenal budaya tradisionalnya. Mereka lebih asyik memainkan gedget dan berchattingan ria di beberapa akun social media dari pada harus bermain mainan tradisional dengan teman-teman sebaya.Ironis jika saya melihat fenomena seperti itu.

Salah satu seni tradisional yang hampir tenggelam di wilayah Jawa Timur yaitu kesenian Ludruk. Di mana ludruk merupakan kesenian drama traditonal dari daerah Jawa Timur  yang dilakonkan oleh beberapa orang di sebuah panggung dan mengangkat kisah kehidupan sehari-hari masyarakat jawa khususnya. Ludruk biasanya ditampilkan dengan lawakan yang menggunakan bahasa khas Surabaya maupun bahasa khas dari beberapa daerah di Jawa Timur oleh beberapa lakonnya. Lakon dalam ludruk biasanya memakai bahasa yang lugas dan mudah di pahami serta mudah diserap oleh kalangan nonintelek seperti sopir truk, tukang becak, peronda dan lain lain. Kesenian ludruk diawali dengan Tari Remo dan diselingi pementasan oleh seorang lakon yang memerankan tokoh “Pak Sakera” yaitu jagoan dari Madura.

Salah satu pelawak ludruk legendaris dari Surabaya yaitu Kartolo. Beliau sudah lebih 40 tahun hidup dalam dunia seni ludruk. Beliau mendirikan grup ludruk yang diberi nama Kartolo CS. Sebelum bergabung di lawak ludruk, Kartolo bergabung dengan Ludruk RRI Surabaya, bersama seniman ternama diantaranya Markuat, Munali Fatah dan Kancil.

Ludruk Irama Budaya kini merupakan satu-satunya ludruk yang dimiliki di daerah Surabaya. Pemerintah menyediakan sebuah gedung yang tidak terlalu besar untuk pementasan grup ludruk ini. Akan tetapi, tempat ini jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya di Pulo Wonokromo, dimana mereka harus membayar biaya sewa.

Beberapa grup ludruk berusaha untuk menguri-uri kesenian tradisional khas Jawa Timur agar tidak hilang tergerus oleh zaman.

Ludruk merupakan jati diri masyarakat Jawa Timur khususnya Surabaya hal itu menunjukkan bahwa kesenian ludruk sebagai identitas budaya masyarakat Jawa Timur.Generasi penerus menjadi salah satu aset terpenting dalam pelestarian dan pengembangan Ludruk di masa yang akan datang. Sangat diharapkan rasa kepedulian dari kalangan pemuda untuk melestarikan kesenian tradisional ini. Jika bukan kita yang menguri-uri budaya kita sendiri lalu siapa?. Apa kalian akan diam saja jikalau negara asing mulai mengambil dan mengklaim kesenian budaya kita menjadi miliknya? Tentu kita semua tidak ingin hal seperti itu terjadi. Maka dari itu ayolah para pemuda yang arief  kita budayakan dan lestarikan apa yang telah para leluhur wariskan kepada kita.

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Pripun Kabare Ludruk Le? Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora