Lokal

Harian Blora Mengucapkan Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2018.

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Saturday, 2 December 2017

Kuliah Sambil Bisnis Kopi, Mengapa Tidak?

Hamam Nashirudin saat menjukkan kopi olahannya, Sabtu (2/12/2017).
Temanggung, Harianblora.com – Bagi Hamam Nashirudin, mahasiswa semester akhir Prodi Al-Ahwal Al-Syakhsiyah Jurusan Syariah STAINU Temanggung, Jawa Tengah, kuliah sambil berbisnis menjadi hal menyenangkan. Apalagi, di tempatnya, bisnis kopi menjadi suatu hal menarik sekaligus menantang.

Mengapa demikian? Sebab, selain akrab disebut Kota Tembakau, Kabupaten Temanggung juga dikenal dengan 'kota kopi' karena menjadi ‘surganya kopi’. Melihat luasnya lahan di Temanggung yang ditanami kopi, menjadi potensi ekonomi lokal bahkan internasional, karena sudah beberapa kali kopi Temanggung menjadi juara dalam berbagai festival/kontes kopi internasional.



Potensi ini menjadikan Hamam Nashirudin, mahasiswa semester akhir Prodi Al-Ahwal Al-Syakhsiyah Jurusan Syariah STAINU Temanggung, Jawa Tengah, mengembangkan bisnis kopi. Mulai dari proses pemetikan di pohon, hingga pengeringan, sampai pada packing dan juga penyajian. Ia mengajak kaum muda, terutama mahasiswa untuk berbisnis kopi agar bisa mandiri.



Banyak kopi yang bisa dijadikan bisnis, khususnya di wilayah Temanggung sendiri. Mulai dari kopi jenis Robusta, Arabika, Excelsa, Liberika dan lainnya.



Temanggung, menurut dia adalah surganya kopi dan kopi ibarat mutiara terpendam yang harus dikenalkan ke publik. “Kalau lahannya di Temanggung, paling banyak di Temanggung Utara, yaitu jenis Robusta ada di Pringsurat, Kaloran, Kandangan, Gemawang, Jumo, Candiroto dan Bejen. Sementara untuk Arabika di Kledung, Bulu, Bansari, Ngadirejo, Tretep. Kalau Excelsa, itu hanya varian dari Liberika, tapi hanya dikit,” kata Hamam Nashirudin, Sabtu (2/12/2017).



Penamaan Robusta, kata dia, itu masuknya di unit produksinya. “Turunannya ada Tugusari, Banglan, ada Kopi Ayu, Kipas, BP dan lainnya,” beber pria yang pernah berguru pada Mukidi tersebut.



Sementara Arabika, kata dia, turunannya ada Lini S, Kartika. “Kalau Liberika itu, jenisnya ada Kopi Lanang dan Excelsa. Kopi Lanang itu merupakan jenis monokotil, sedangkan dikotil itu ya kopi perempuan. Ini hanya jenis dari aspek biji-bijian,” jelas aktivis PC PMII Temanggung tersebut.



 “Sejak 2015 mulai bergeliat, karena baru mulai setelah festival saat itu. Awalnya ya memang agak merintis, tapi alhamdulillah sekarang sudah mulai bergeliat,” ujar pengurus Departemen Keorganisasian HIPMI Temanggung tersebut.



Kalau kopi asli Temanggung ya aslinya Excelsa, kata dia, INI varial awal yang biasa disebut Kopi Jawa atau Kopi Gede (Besar), atau Kopi Nangka. “Karena memang pohonnya kayak pohon nangka. Kalau namanya kemudian Excelsa itu ya nama kerennya lah,” kata dia.



Kalau uniknya di Temanggung, lanjut dia, pohonnya kira-kira dua meter kalau pertumbuhannya baik. “Kalau pohon kopi kok tingginya di atas dua meter akan berdampak pada rusaknya pohon saat pemetikan atau panen. Juga menambah biaya produksi, biaya pemupukan, karena konsumsi gizi juga tinggi. Idealnya 1,5 sampai 2 meter,” lanjutnya.



Kalau dalam sejarah, kata dia, Arabika dan Robusta ya yang membawa Belanda ke Indonesia hingga ke Temanggung ini. “Guruku pertama ya Pak Mukidi. "Yang mengajarkan saya tentang roasting kopi pertama ya Pak Mukidi di Jambong, Gandurejo, Bulu, Temanggung.





Pengembangan

Kalau dari aspek pengembangan, kata dia, harus dikembangkan kopi packing siap seduh. “Tentunya yang sudah sesuai SOP, atau Standar Operasional Produksi. Ya, mulai dari petik merah, pengolahan pascapanen menggunakan pengeringan yang baik, jarak pengeringan minimal 50 cm di atas tanah. Itu pun harus memakai streamin bukan terpal atau anyaman bambu (kepang). Itu dikeringkan sampai kadar air minimal 12 persen agar saat penyimpanan tidak menjamur,” tegas dia.



Kemudian kalau sudah kering, kata dia, proses berikutnya adalah penggorengan. “Ini memakai alat mesin roasting, tidak manual. Ketebalan mesin dari stenlies minimal 0,5 mm,” papar dia.



Untuk Robusta, kata dia, yang bisa dikatakan matang itu ketika medium, yaitu tingkat kematanagnnya ketika warna kopi masih cokelat.



Untuk Arabika, kata dia, itu juga sama medium. “Tapi untuk Arabika, ya medium saja, warnanya agak cokelat muda,” ujar dia.



Setelah itu, didiamkan tiga hari agar gas keluar karena berdampak dengan karbon. “Tiga hari ini metodenya ditutup dan dibuka agar seimbang. Setelah didiamkan tiga hari, baru dibubuk atau dihaluskan dengan mesin, bukan manual. Manual juga bisa tapi ya lama. Setelah itu baru packing, pengemasan dan labeling,” beber dia.



Untuk plastik bening, kata dia, plastiknya minimal 0,8 mm. “Sementara untuk plastik berwarna agak tebal, aluminium foil, itu yang biasa dipakai karena yang paling standar,” beber dia.



Kalau plastik bening, memang agak sobek. Tapi kalau aluminium foil ini sudah standar supermarket. “Ini per satu bungkus, bisa untuk 10 gelar standar,” tandas dia.



Untuk agenda, kata dia, kita sudah mengawal sejak tahun ini. “Yaitu dengan membuat Brew Bagi, yaitu acara tiap hari Jumat yang digelar komunitas Selapanan Kopi yang anggotanya para pelaku usaha kopi. Forum ini juga menjadi wahana bagi-bagi kopi-kopi gratis tiap pelaku usaha kopi," imbuhnya.





Untuk even besarnya, kata dia, ya sudah tiga tahun jalan sampai 2017 ini. "Biasanya diadakan setelah musim panen kopi dengan peserta seluruh pegiat kopi Temanggung. Ini skalanya masih festival kopi Temanggung, syukur ke depan bisa berkonversi ke Jateng bahkan nasional,” ujar dia.



Untuk konsumen, selain penikmat kopi, kalau untuk tips agar kopi awet, kalau beli kopi bubuk jangan terlalu banyak, ya cukup untuk stok satu bulan. “Untuk penyimpanan, ditutup rapat, karena aroma kopi setelah menjadi bubuk dan terbuka, itu paling lama dua minggu akan berkurang,” papar dia.



Kalau yang dimaksud pecandu, kata dia, menurut saya sudah 10 gelar per hari. “Di bawah itu, ya baru tingkat penyuka, bukan pecandu,” tukas dia.



Untuk konsumen kopi, kata dia, usahakan sebelum meminum kopi, makanlah makanan kecil. “Karena kopi menyimpan banyak zat asam, ketika perut kosong kok langsung ngopi, maka asam lambung meningkat dan menjadikan perut sakit. Maka kedai kopi yang baik, saat menyajikan kopi seduh pasti disediakan roti atau makanan kecil di sampingnya,” papar dia.



Untuk takaran saji, kata dia, untuk gelar kecil ya cukup satu sendok makan penuh. “Untuk takaran gula, itu selera, itu pun disarankan setelah kopi jadi. Tapi kebiasaan di sini, penikmat kopi jarang memakai gula. Untuk takaran saji, airnya sekitar 130 - 150 ml per 1 sendok makan penuh atau 10- 15 gram kopi. Suhunya, 80-90 derajat celcius. Ini bisa untuk semua ukuran atau takaran penyajian, tinggal menaikkan atau mengurangi,” jelasnya panjang.



Hamam, biasanya menjual kopi produknya berlabel Lengkong Coffee via online maupun offline itu, untuk bubuk/rosbin ukuran 1 kg mulai dari harga Rp 180.000 sampai Rp 20.000. Sementara untuk bubuk ukuran 100 gram mulai dari Rp 20.000 sampai Rp 30.000.



Ia berharap, potensi Temanggung ini harus dimanfaatkan untuk berbisnis sekaligus menjadikan kopi sebagai salah satu khazanah khas Temanggung yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Dari hasil berbisnis yang ia lakoni itu, ia mengaku bisa untuk membantu kehidupan sehari-hari termasuk kuliah. (red-Hb11/hi).

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Kuliah Sambil Bisnis Kopi, Mengapa Tidak? Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora