Harian Blora menerima rilis tulisan baik berupa berita, juga opini, cerpen dan puisi. Naskah silahkan kirim ke redaksiharianblora@gmail.com

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Tuesday, 28 June 2016

Memetik Hikmah Nuzulul Quran

Misbahul Munir
Oleh: Misbahul Munir
Alumni Pondok Pesantren As-Shiddiqiyah Lubuk Seberuk OKI SUM-SEL, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Kaukus Penulis Aliansi Kebangsaan

Ramadan bulan yang penuh dengan keberkahan. Itulah yang banyak tertera di berbagai tempat. Mulai dari poster-poster di pinggir jalan, tulisan-tulisan di media masa, iklan-iklan komersil di beberapa media, baik media cetak maupun elektronik. Mengenai keberkahan ramadan juga banyak disampaikan oleh ustadz-ustadz secara khusus yang tayang pada saat bulan ramadhan. Munculnya banyak acara khusus yang membahas tentang bulan ramadhan seolah sudah menjadi tradisi yang akut di kalangan masyarakat Indonesia.

Kemudian yang tidak pernah ketinggalan dalam setiap pembahasan mengenai ramadan adalah peristiwa nuzulul Quran atau peristiwa turunnya kitab suci Alquran. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 17 ramadan tepat pada 40 tahun umur nabi Muhammad SAW. Memang banyak kejadian-kejadian penting dalam sejarah umat muslim yang terjadi pada tanggal 17 ramadan. Selain peristiwa nuzulul Quran, peristiwa yang terjadi pada 17 ramadan adalah peristiwa perang badar pada tahun kedua hijriyah, meninggalnya kulafaur rasyidin ke empat—Ali bin Abi Thalib pada tahun 40 hijriyah dan kemenangan umat muslim dalam perebutan penguasaan kota Bynzantium pada tahun 218 hijriyah.

Turunnya Wahyu Pertama
Turunnya wahyu pertama merupakan peristiwa yang bersejarah dan fenomenal dalam penyebaran ajaran Islam oleh nabi Muhammad SAW kepada seluruh alam. Peristiwa ini merupakan tonggak kemajuan dalam berbagai bidang, khususnya dalam penyebaran ajaran Islam. Ketika pada masa itu, kondisi masyarakat suku Qurais benar-benar dalam keadaan kejahiliyahan. Banyak tradisi-tradisi yang sangat tidak manusiawi dibudayakan. Mulai dari mengubur hidup-hidup setiap bayi perempuan yang baru lahir, wanita dijadikan objek sebagai barang yang di perjual-belikan, penyembahan terhadap berhala-berhala yang sudah menjadi tradisi secara turun-temurun.

Mengetahui kondisi masyarakat suku Qurais yang sudah sedemikian jahiliyahnya, Rasulullah prihatin dengan keadaan tersebut. Kemudian Rasulullah sering menyendiri dan bermunajad di waktu malam hari di gua hira’ yang terletak di atas gunung an-Nur(Jabal Nur). Disinilah awal dari tugas besar Rasulullah. Dimana pada saat itu secara resmi, Rasulullah di lantik menjadi Rasul untuk menyebarkan Islam sebagai agama yang menjadi rahmat bagi alam semesta.

Pada malam hari 17 ramadan, seperti biasa Muhammad mendatangi gua hira’ untuk bermunajad. Tiba-tiba datanglah sosok malaikat Jibril seraya berucap iqra’. “Bacalah!”Muhammad menjawab “aku tidak bisa membaca”. Lalu malaikat Jibirl memeluk Muhammad hingga terasa amat sesak, kemudian Jibrilmelepas kemudian berkata lagi “bacalah!” “aku tidak bisa membaca” jawab Muhammad lagi, kemudian Jibril memeluk Muhammad lagi hingga terasa lebih sesak, kemudian melepaskannya dan berucap kembali“iqra’ bismirobbika al-ladzai khalaq”.“Bacalah! Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan menusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmu-lah yang maha pemurah”. (QS. Al-Alaq :1-3). Kemudian Muhammad mengikuti apa yang diucapkan Jibril dan langsung hapal seketika.

Pelajaran
Dari sinilah sejarah dimulai. Nuzulul Quran yang ditandai dengan turunnya wahyu pertama tersebut, benar-benar menjadi peristiwa besar dalam sejarah umat muslim. Titah untuk menyebarkan ajaran ilahi telah resmi dimulai. Tanda-tanda mengenai kebesaran peristiwa ini juga sudah diketahui oleh salah satu pendeka yahudi ahlul kitab yang bernama Waraqoh bin Naufal, yang setelah mengatahui tentang peristiwa Muhammad di gau hira’, dia berkata bahwa Muhammad akan menjadi Nabi akhirul zaman.

Setidaknya ada ibrah yang bisa kita ambil dari adanya peristiwa nuzulul Quran. Banyak hal yang dapat kita jadikan pelajaran. Mulai dari awal bagaimana peristiwanuzulul Quran terjadi secara kronologis, bagaimana para keluarga dan orang terdekat menyikapi terjadinya peristiwa, sampai pada apa yang semestinya bisa kita ambil dari adanya peristiwa ini. Yang jelas, nuzulul Quran menjadi momentum bagi umat muslim untuk mengenang kembali proses turunnya kitab suci Alquran untuk pertama kalinya. Kemudian, juga sebagai refleksi kita agar kembali mengkaji lebih dalam Alquran. Kita jadikan sebagai kesempatan untuk menggali nilai-nilai luhur dan jutaan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Perintah membaca yang pertama kali diucapkan oleh malaikat Jibril pada Rasulullah juga mengendung pelajaran yang begitu mendalam. Secara filosofis, perintah tersebut mensiratkan bahwa dalam belajar apapun, hendak selalu didahului dengan membaca. Membaca tidak bisa lepas dari kegiatan belajar mengajar. Inilah yang kemudian menjadi percontohan bagi umat manusia, bahwa ilmu itu selalu diawali dengan mengenalinya terlebih dahulu. Membaca adalah proses lagkah awal dalam mempelajari dan mengenali sesuatu.

Makna membaca hendaknya dimaknai secara luas, tidak hanya sebatas membaca buku atau tulisan saja, kita mengenali lingkungan dan mengenali alam juga merupakan membaca yang dalam artian luas. Mengenali mahkluk-makhluk dan juga Alam ciptaan Allah SWT. Demikian ibrah yang bisa kita ambil dari adanya nuzulul Quran.Semoga peristiwa nuzulul Quran tersebut dapat merefleksikan kepada kita mengenai hikmah yang bisa kita ambil, yang kemudian dapatmempertebal keimanan dan ketaqwaan dalam pribadi kita. Amin! ()

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Memetik Hikmah Nuzulul Quran Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora