Lokal

Harian Blora Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha. Semoga Kita Semua Mendapat Berkah Qurban.

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Thursday, 12 January 2017

Aku Melahirkan Suamiku

Oleh Ferry Fansuri
Surat itu terus aku pandangi diatas meja kamarku, aku duduk tepi ranjang dan disebelahku Adim bayi kecilku yang masih memerah menginjak 1 tahun ini. Kubelai rambutnya yang lurus dan kulitnya yang putih,dalam benakku “Kasihan kau nak, tak kenal dengan ayahmu” bisikku. Ayahnya menghilang dalam satu malam saat malam pertama dan hanya meninggalkan surat bersegel perekat lilin merah dengan tulisan “bukalah saat yang tepat”. Sebenarnya aku tak perduli surat itu tapi rasa penasaran itu bergejolak ingin tahu isinya

Aku tak paham kenapa dia meninggalkanku setelah menindihku dan memasukan benihnya ke rahimku pada malam itu setelah resmi menjadi suamiku. Kukenal Penta dengan waktu singkat tak lebih sebulan, itupun memang tidak sengaja. Dia datang di ambang pintuku secara tiba-tiba 1 tahun yang lalu, mengenalkan dirinya sebagai teman lama tapi seingatku aku tak ingat punya teman seperti dia.

Wajahnya putih dengan rambut lurus, tinggi proposional dan memiliki aura menarik. Tapi aku tak tertarik akan seorang pria, biarpun itu ganteng dan mempunyai tubuh atletis sekalipun. Tapi kehadiran Penta saat itu, hanya aku manfaatkan untuk melegalkan hubunganku dengan Dini. Iya aku lesbian, penyuka perempuan atau kalian katakan LGBT di luar sana.

****************************

Beberapa tahun yang sebelumnya, aku berasal keluarga yang dibilang bahagia dan bercukupan. Aku memperoleh pendidikan tinggi sampai bangku kuliah, kenyamanan dan ketenangan ada di keluarga ini. Tapi yang kurasakan kosong akan semua ini, ada jiwa lain dalam diri ini memberontakk dan ingin keluar.

Sebagai wanita secara fisik aku menarik, bodi aduhai, pinggul layak biola, bibir tipis, kulit putih dan rambut panjang pasti menggoda tiap pria saat memandangku. Begitu banyak pria yang mendekatiku tapi jiwa ini menolak tanpa chesmistry sama sekali, bahkan pria-pria yang mendekati aku ini hanya kumanfaatkan saja.  

Beda saat kulihat wanita, jantung ini berdebar-debar dan darah naik turun ingin menjamahnya. Ada jiwa laki-laki dalam tubuhku, ini muncul sejak kanak-kanak sampai dewasa. Mataku tak bisa lepas jika memandang wanita. Tapi di lingkungan dan masyarakat semua itu tabu, penyakit itu telah lama ada sejak kota kuno Sodom dan Gomorah dibinasakan pada jaman nabi. Aku hanya bisa diam memendam itu, sampai akhirnya aku menemukan Lastri dalam chattingku di dunia maya.

Hati ini terasa menemukan belahan jiwanya, Lastri seperti menyejukkan jiwa-jiwa yang gersang akan diriku. Rayuan-rayuan dan bualan-bualannya meluruhkan hatiku, akhirnya kami janjian ketemu kopi darat. Lastri ini cewek tomboy dengan rambut pendeknya, celana ketat, kaos ketat dan sepatu kanvas converse jadi ciri khasnya.

Lastri mengenalkan diri bekerja programer sebuah ojek online terkenal di Jakarta, bahkan dia rela datang ke kampungku di Kepanjen. Hubungan kami intens, Lastri mengunjungi aku di kampungku atau sesekali aku ke Jakarta menginap di tempat kosnya.

Orang tuaku tak akan curiga saat kuberitahu bahwa ke Jakarta menginap di tempat Lastri dengan alasan pelatihan kantor selama 3 hari. Disana kami memandu kasih layaknya pasangan yang lagi kasmaran, tak peduli cercaaan sekitarnya.

****************************


Hubungan kami semakin jauh dengan Lastri, seperti tidak mau dipisahkan olehnya. Keinginan mati jika tidak bersamanya, maka dengan memberanikan diri kuajak Lastri ke rumah orang tuaku untuk minta restu melegalkan kami.

“Apa ??!! gila kau Nay !!” teriak bapakku dengan wajah memerah dan berang mendengarkan ucapanku sambil memandangi Lastri. “Tapi aku benar-benar mencintainya pak, tidak bisa hidup tanpanya” sahutku. “ Keblinger kamu Nay, apa bapak ini tidak memberikan pelajaran agama yang baik buat kamu. Sejak kecil kami didik kamu jadi orang benar, kok sekarang mau jadi gendeng” Bapakku terasa tak percaya sambil memukul kepala serta jidatnya berkali-kali.

Mbokne, kerjamu apa saja kok anakmu ini mau jadi orang sinting. Wanita kok mau kawin sama wanita” teriak bapakku sambil memandangi ibuku yang dari tadi menangis sesengukan dari tadi. “Nduk, kami kenapa toh? Kesambet setan dari mana?” ibuku terus berlinang airmata.

“Bu, ini aku anakmu Nayala. Tidak gila tapi sadar.Aku pengen nikah sama Lastri bukan yang lain. Jika tidak, aku bunuh diri” ancamku. “Oalah nduk, kamu itu sinting. Mana ada perkawinan sesama jenis disini, kamu dilaknat” jawab ibuku.

“Sudah..sudah mbokne, jika kamu teruskan rencana gilamu menikahi setan ini. Pergi dari rumah ini!!” geram bapakku sambil melotot ke Lastri yang tenang-tenang saja sambil menyungging senyumnya tanda kemenangan.

“Pergil kamu dari rumah ini !!, aku tak rela punya anak seperti kamu. Kami didik kamu dengan ajaran yang benar tapi kamu seperti ini. Oh Gusti, apa salah keluarga kami? Sampai anak ini punya pikiran edan” sambil tengadah tangan ke atas meminta ampun.

“Baik, kalau bapak dan ibu tidak merestui hubungan kami. Aku minggat dari rumah ini. Jika itu keputusannya” sambil kutarik tangan kiri Lastri untuk keluar. Kudengar hanya sanyup-sanyup suara Ibu memanggilku dan mencoba menahanku untuk tak pergi tapi tubuhnya dipegangi Bapak.

Sejak itu terakhir aku lihat keluargaku, aku memutuskan hijrah ke Jakarta mengikuti Lastri. Disanalah kami bisa diterima.

**********************************

Di Jakarta, kami lebih bebas dari dunia yang taat pada norma-norma agama. Aku dan Lastri memadu kasih tanpa gangguan. Kamipun tinggal bersama, menyewa rumah dan mencari pekerjaan. Tak sulit untukku mendapatkan pekerjaan di gemerlap kota Jakarta, lamaran kerjaku di provider telekomunikasi diterima.

Tapi hubunganku bersama Lastri tidaklah mulus karena ternyata dia selingkuh dengan yang lain. Hal menyakitiku lagi ternyata dia bisex, kepergok olehku saat kelaminya dihajar oleh seseorang lelaki di rumah yang kita tinggali bersama. Kuusir dia dari rumah itu. Sedihku tak berujung, Lastri yang kupercaya telah berkianat.

Tapi tak lama kesedihanku itu terobati dengan menemukan tambatan hati lainnya, tapi hubunganku selalu kandas. Ada Rory pelatih fitness, Sheila pemain sinetron figuran, Ratih dosen perguruan swasta dan banyak lagi. Tapi semua kandas dan terakhir Dini seorang pendidik taman kanak-kanak jadi pasanganku.

Sepertinya masalah yang dulu-dulu, status kami tidak bisa kami legalkan. Karena hukum negeri ini tidak menerima perkawinan sejenis atau harusnya kami pergi ke Eropa atau Amrik untuk meresmikan status kami dan ganti kewarganegaraan. Ah itu tak mungkin, hidup dan pekerjaan kami disini ada di negeri katulistiwa ini.

Saat itulah kami ada ide gila yang kami rancang berdua “Nay sayang, ini akan berhasil jika kita lakukan bersama” bisiknya pada waktu sore selepas kerja sambil membelaiku. “Maksudmu gimana princess? “ tanyaku manja dan heran. “Carilah pria yang mau menikah kamu, agar kamu punya status jelas dan kita tetap bisa bersama” jelasnya. “Apa gila kamu Din, aku tidak terangsang sama pria sama sekali apalagi diajak kawin..cuiih”celaku. “Apa lagi Nay, kamu tahu sendiri hukum di negeri ini tak terima pasangan macam kita ” teriak Din “Apa kamu mau sampai tua tidak nikah, jadi perawan tua terus dicurigai tetangga dan masyarakat sekitar kita..hah? jelasnya.

Sebenarnya omongan Dini masuk akal, jika kami tinggal serumah biarpun sesama perempuan dengan waktu lama. Mengaku saudara tapi tidak mempunyai kartu keluarga, bisa-bisa digerebek satpol pp. Dan akhirnya rencana busuk itu aku jalankan menjerat lelaki, maka disana muncul Penta.

***********************


Rasa penasaranku tidak sebesar ini semenjak kulihat surat itu lagi, apakah isinya sampai Penta meninggalkan ini untukku. Surat itu tidaklah istimewa, hanya perekat dari lilin merah sebagai segelnya.

Kuraih surat itu, segel merah itu terkoyak dan kukeluarkan selembar kertas di dalamnya dan kubaca.

Dear Nayala, kutinggalkan surat ini untukmu agar engkau baca saat yang tepat. Kenapa aku datang kepadamu, kenapa aku meninggalkanmu. Lihatlah wajah bayimu, perhatikan mata, bibir, rambut serta kulitnya. Tahukah engkau, dia itu adalah aku yang menjadi suamimu dalam semalam. Tempatku 20 tahun dari sekarang, kulewati perjalanan waktu untuk menemui kamu. Iya engkau ibuku di masa depan, kenapa aku datang kepadamu karena dimasa depan engkau sangatlah menderita dengan jiwa yang lain dari tubuhmu itu. Tubuh dan pikiran tak menyatu, kau umbar keinginanmu untuk melampiskan napsu yang tak berunjung. Terus dan menerus untuk memuaskan jiwamu yang hilang itu. Kutinggalkan diriku untukmu tuk kau rawat, agar kau rasakan sentuhan lelaki sebenarnya.Dan lelaki itu adalah Aku”

Surabaya, Desember 2016

-Ferry Fansuri kelahiran Surabaya, 23 Maret 1980 adalah penulis, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya "Roman Picisan" (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional.



  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Aku Melahirkan Suamiku Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora