Lokal

Harian Blora Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha. Semoga Kita Semua Mendapat Berkah Qurban.

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Tuesday, 13 December 2016

Kita ini Siapa?

Oleh M Yudhie Haryono
Direktur Eksekutif Nusantara Centre

Dulu. Ya dulu. Republik ini dibuat oleh mereka yang berani makar. Negara ini diproklamirkan oleh mereka yang berani kudeta. Bangsa ini dipimpin oleh mereka yang revolusioner. Sebutlah mereka Tan, Karno, Hatta, Syahrir, Dirman, Kihajar, Djuanda, Amir, Wilopo dan lainnya.

Tapi, republik dan negara yang kita warisi kini seperti drakula. Dikelola dengan sadis penuh amis. Bagai isi puisi di bawah ini. Puisi tentang penghianatan negara ke pemiliknya, rakyat.

Puisi yang ditulis Yudi S Suyuti (2016):
Ketika dibentuk untuk memakmurkan, tapi memiskinkan/Ketika dibentuk untuk melayani, tapi menindas/Ketika dibentuk untuk memuliakan, tapi memperbudak/Ketika dibentuk untuk melindungi, tapi meneror/Ketika dibentuk dengan demokrasi, tapi menjadi tiran/Ketika pemimpinnya didudukkan, tapi berbohong dan menipu/Ketika diselenggarakan untuk harapan, tapi menakutkan/Inilah sebuah negara yang berkhianat pada kita.

Maka kini kita siapa? Jika diam melihat jahatnya elite negara. Jika membela pongahnya penguasa. Yang jelas kita bukan Pak Mustofa, Pak Maarif, Pak Aqil dan Pak Kusron. Sebab mereka penikmat begundal kolonial yang pasrah atas manisnya kejahatan sistematis, masif dan terstruktur.

Kita juga bukan bagian dari para fundamentalis sekuler yang sibuk ngemis uang ke "yang lain." Kita juga antifundamentalis ontanis yang cuma bersimpuh ngemis uang ke Tuhan. Sebab keduanya kurang piknik karena miskin sehingga kerjanya "jualan agama" dan "saling memfitnah di antara sesama." Lihat saja, kini keduanya sibuk soal "ucapan selamat natal."

Sebaliknya, kini kita adalah manusia waras. Yang nalarnya meraksasa. Yang jeniusnya sadar waktu. Yang kurikulumnya postkolonial. Yang mengerti bahwa tugas kita adalah mengandung dalam diri masing-masing api kemerdekaan, banjir revolusi, pergerakan kewarasan yang nanti melahirkan kemandirian, kemodernan dan kemartabatifan.

Generasi setelah kita yang akan memetiknya. Merekalah yang akan menjadi diri dan bangsa ini dahsyat kembali karena menemukan dirinya setelah kuman neoliberalisme kita tusuk mati tepat di jantungnya. Melalui revolusi putih; revolusi total.

Mereka adalah generasi garuda yang hormat pada kebaikan masa lalu sambil terus memproduksi kedahsyatan-kedahsyatan jenuin bagi masa depannya. Mereka subjek sejarah besar: manusia atlantik; agensi pancasila.

Kita harus sadarkan meraka bahwa sesungguhnya kecerdasan-kekayaan-kesehatan itu ialah hak seluruh warganegara dan oleh sebab itu, maka konglomerasi di bumi nusantara-bumi manusia harus dilenyapkan karena tidak sesuai dengan pancasila dan cita-cita proklamasi.

Itulah generasi yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, makmur dan berdoa karena jiwa patriotik yang dibawa mati dan tangguh sampai di depan Tuhannya. Hidupnya cukup ringkas: lahir, jihad dan syahid.

Generasi yang nantinya menegakkan negara dengan lima pilar: 1)Ulama yang jenius; 2)Umaro yang adil; 3)Orang kaya yang sosial; 4)Kaum miskin yang progresif; 5)Budayawan yang beradab.


Kini, kita adalah Diponegoro dan Tjokroaminoto yang menanam benih revolusi agar lahir badai-badai baru penyapu ranjau kejahatan lokal dan kebiadaban internasional. (*)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Kita ini Siapa? Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora