Lokal

Harian Blora Mengucapkan Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2017. Semoga kita semua bisa menjadi guru bagi diri sendiri dan keluarga yang bisa digugu dan ditiru.

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Saturday, 17 December 2016

Sepak Bola Tikus

Oleh Putra Marenda

“Cit cicit cit cicit cit citt cicicit ?” “aku dengar kerajaan sepakbola tikus kita punya ketua baru ya?”
“Cit cicict cit cicit” “Raja sepakbola tikus kita sekarang adalah  militer”

Kerajaan Sepakbola Tikus. Adalah sebuah kerajaan yang berada disuatu negara. Penuh polemik dan intrik. Dua tahun lalu kerajaan ini di bekukan oleh kerajaan tikus sepakbola dunia yang mengatur segala hal bidang sepakbola di dunia. Akibatnya persepakbolaan lokal dinegara tikus menjadi mati suri. Perlu perjuangan yang sangat kuat untuk membangkitkannya. Lalu muncul lah pahlawan tikus. Pahlawan ini duduk sebagai tangan kanan Raja tikus di kerajaan tersebut. Pahlawan tersebutlah yang sebenarnya membuat sepakbola tikus menjadi mati suri. Dengan semboyan yang selalu ia dengungkan ke masyarakat tikus yaitu “Revolusi Sepakbola tikus”. Akibatnya mafia-mafia tikus yang sering memberi pindang ke tikus-tikus berdasi lain mulai bergelimbungan, dan ada yang lari keluar negeri dan sampai sekarang tak ada kabar saking takutnya.

Sekarang setelah sekiranya revolusi mulai mencapai titik terang, pahlawan tikus mulai mendekati panitia penyelenggara untuk mengadakan semacam suatu turnamen. Hasilnya turnamen seperti obat dahaga bagi pencinta sepakbola tikus. Namun tidak sampai disitu ada tuntuan untuk membuat suatu liga kompetisi. Pahlawan tikus pun merespon, dibuatlah liga yang akhirnya berdampak baik pada sepakbola tikus untuk membangkitkan atmosfer sepakbola dikerajaan. Masalah tidak sampai disitu, dalam upaya untuk revolusi sepakbola tikus diperlukan suatu raja baru untuk mengatur segala hal supaya menjadi lebih baik dan terstruktur. Sampai akhirnya revolusi pun terjadi kemarin. Ketua sepakbola tikus baru akhirnya terpilih.

“Cit citcit cicicit?” “Dia bisa bermain sepakbola?”
Dua mafia sepakbola tikus sedang berdiskusi.
 “Cicit? citcit cicicit cit?” “Menurutmu ? Apa dia seperti sebelum-sebelumnya?”
 “Cit cit cit cicicitcit cit” “Kalau seperti sebelumnya berarti dia kiper”
 “Citcit citcit cicicitcit cicit?” “Akan lebih mudah untuk membobolnya bukan?”
 “Cit cit cicit” “Kalo dia striker bagaimana?”
 “Cit citcit cicicit” “Cukup bilang, jangan cetak gol”
 “Cit cit” “Apa bisa?”
           
Di balik suka citanya sepakbola tikus yang telah mendapatkan raja sepakbola dari kalangan militer, ada senyum licik yang siap mengintai. Mafia-mafia dinegara tikus ini sangat licik. Bahkan persepakbolaan yang melibatkan elang saja bisa disuap dan membuat permainan antara klub elang dan klub asal ibukota daerah tengah menjadi banjir gol bunuh diri. Tantangan tersendiri buat mafia untuk menyuapi sang raja tikus dengan baret berwarna hijau hitamnya.

 “Cit citcit cicicitcit cit cict cicicicict cicicit cicicicittictcict, citcict cit cit cit” “Kalau sebelumnya hanya kita bisiki dengan umpan pindang saja, si raja tikus sudah membiarkan gawangnya terbobol, harusnya yang raja sekarang bisa seperti itu”
“Cicitcit cit” “Tapi raja tikus ini berbeda”
 “Cicitcit cicit, cit citcitcit cicicit cici cicit citcit cit cit cicicicict” “Sama saja, hanya saja dia bawa pistol dengan baret dikepalanya warna hijau hitam, bedanya sama yang kemarin ialah dipenampilan saja, kalau yang kemarin kan tikus berdasi”
 “Cit citcit cicicit cittcitt” “Tapi sepertinya pindang saja tidak cukup”
 “ci cicit cicit ccit cii” “Ya perlu tikus betina yang membawa pindang supaya cukup”
 “cicit ?” “Tikus betina?”
 “cicit cicit cicitcit citcit cicicit”” “Ya, tikus betina nya masih ada dikerajaan terdahulu yang sekarang masih dipakai dijajaran kerajaan sepakbola tikus”
 “Citcitciiiit citcit cicicitcicict ciiiittcitt citt?” “Hanya perlu bisikan kata pindang ke mereka, dan mereka akan bergerilya dengan si Raja, menarik bukan?”
 “Citcicit citcit cicicit?” “Lalu apa tujuan kita selanjutnya?”
 “Cicicict citcicicit cici cit cicicit, ciiiiiiiiiiiiiii” “Kita uji si Raja, beruntung kalau Raja mau makan pindangnya dan seperti biasa kita akan ada pesta digot-got kerajaan ini, hahahaha”
“Ciiiiit cicicit ciiiiiii cicit cit” “Raja uji coba ya haha sejauh mana militer akan bertahan”

Di sudut lain didaerah kerajaan tikus juga terdapat diskusi masyarakat dimulai dari tikus penjual pisang busuk, tikus penjual tulang ayam dan lain-lain. Diskusinya pun sama seperti sebelum-sebelumnya, yaitu mengomentari terpilihnya raja baru sepakbola tikus. Ada harapan yang muncul dari benak mereka.
 “Cicit citcit citcitcit” “Timnas bakalan maju sepertinya”
 “Cit citcit cicicit” “Militer susah dijatuhkan”
 “Cicicitcit cit cicicit” “Mafia akan hilang dengan sendirinya”
 “Cicicit cicicit!” “Semoga sepakbola ini benar-benar revolusi!”

Di sudut lain pula, ada harapan yang muncul dari pemain-pemain yang mencari nafkah di persepakbolaan tikus ini. Berharap polemik yang terjadinya tidak terulang lagi. Dan sebagai pemain, harapannya sederhana, sepakbola tikus dikerajaan ini bisa seperti dulu lagi, dapat mencapai tingkatan yang paling tinggi di kancah internasional.

 “Cicit cicicitcit cicicit cicicit cit cit cicicit ci cicict cicicicit citcitcict cicict cit” “Harapan saya terhadap raja sepakbola baru tentu saja semoga dapat memperhatikan nasib pesepakbola dikerajaan ini, Tim nasional dapat berprestasi lagi. Saya rindu sepakbola ini mencium tropi”
-ucap mantan kapten timnas sepakbola tikus nomor 20, ketika diwawancarai oleh salah satu warta terkenal dikerajaan yaitu Harian Tikus Nasional.

Selesai.


Putra Marenda adalah penulis yang sudah mengeluarkan buku dengan judul “Jejak Langkah yang Kau Tinggal” yang terbit pada Agustus 2016 oleh penerbit Ellunar. Penulis sekarang sedang menempuh kuliah di UPN “veteran” Yogyakarta jurusan teknik Geofisika. 
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Sepak Bola Tikus Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora