Lokal

Harian Blora Mengucapkan Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2017. Semoga kita semua bisa menjadi guru bagi diri sendiri dan keluarga yang bisa digugu dan ditiru.

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Wednesday, 25 February 2015

Ayo Jadilah Petani, Lonceng Kematian Pendidikan di Indonesia



Semarang, Harianblora.com -  Setelah sukses menulis buku Agama Skizofrenia jilid I dan jilid II, Ahmad Fauzi kini berencana akan menerbitkan buku bertajuk Ayo Jadilah Petani, Lonceng Kematian Pendidikan di Indonesia. Ahmad Fauzi merupakan lulusan Fakultas Ushuludin IAIN Walisongo Semarang yang pernah mengidap Skizofrenia sekitar selama 11 tahun.

Ahmad Fauzi saat foto di depan rumahnya.
Pada buku pertama, Fauzi menulis berjudul "Agama Skizofrenia, Delusi, Ketidaksadaran dan asal-usul Agama." Kemudian yang kedua bukunya berjudul Agama Skizorenia, Kegilaan, Wahyu dan Kenabian".
 
Selain dianugerahi kecerdasan yang luar biasa, Fauzi juga memiliki daya ingat kuat. Namun cara berpikir dan pemikirannya yang aneh, banyak orang yang kadang berselisih pendapat dengan dia. Padahal ia sendiri pernah mengaku hafal Alquran 30 juz. Hal itu justru menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan dan memori di otaknya sangat kuat.

Karena kontroversi berisiko dan riskan atas kehidupan keluarga, kata dia, maka menulis tema yang lebih moderat dan inspiratif adalah keniscayaan. "Ayo, Jadilah Petani, Lonceng Kematian Pendidikan di Indonesia , sebuah judul buku yang sedang kugarap. Meski baru sepuluh halaman, menopangkan pada ide dasar bahwa pendidikan di Indonesia belumlah disebut berhasil selama belum mampu membuat para murid dan anak didik untuk bercita-cita menjadi seorang petani dan nelayan,” beber dia, Rabu (25/2/2015) pagi.

Ide ini, kata Fauzi, juga berangkat dari manifesto postmodern yang mengumandangkan perlawanan atas meta narasi atau narasi narasi besar. “Seolah perubahan hanya mungkin melalui jalur struktur yang kolosal dan massif. Menyemai mimpi pada anak didik untuk tidak terpukau bercita-cita menjadi dokter, insinyur, direktur, menteri, presiden atau pilot, tetapi kenapa tidak terpikirkan sama sekali untuk menjadi nelayan, petani atau tukang kebun? Sudah banyak orang bercita cita untuk menjadi manusia besar sehingga melupakan bahwa dalam yang pinggiran terdapat perubahan besar yang sebenarnya,” jelas pengisi acara di Cakra Semarang TV tersebut.

Selain menulis buku, menjadi pemateri dalam berbagai diskusi dan seminar, Fauzi kini juga menjadi penanggung jawab acara Lentera Budaya di Cakra Semarang TV yang menggali khazanah budaya Jawa Tengah dengan menghadirkan pemateri dari berbagai kalangan. Mulai dari dosen, budayawan, mahasiswa, aktivis dan tokoh lainnya.

Bukankah petani itu memiliki peran sangat penting dalam tumbuhkembangnya negara ini. Bukankah tanpa nelayan tidak mungkin tercipta generasi generasi cerdas yang mnjdi penopang bangsa ini? Kenapa kita tidak menjadi bagian dari kehidupan mereka yang memiliki peran maha penting ini? Demikian beberapa pertanyaan mendasar yang melatarbelakangi buku yang akan Fauzi garap.

“Petani menanam padi dengan susah payah untuk membuat kenyang para anak negeri, tapi kemiskinan dan kelaparan yang ia dapati. Para nelayan mencari ikan di laut untuk menghasilkan generasi cerdas bagi bangsa ini, tapi kebodohan dan kekurangan gizi yang mereka miliki. Paradoks. Itulah salah satu ruh Marxian dalam buku ini,” tegas dia. (Red-HB20/Foto: AF).
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Ayo Jadilah Petani, Lonceng Kematian Pendidikan di Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora