Lokal

Harian Blora Mengucapkan Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2017. Semoga kita semua bisa menjadi guru bagi diri sendiri dan keluarga yang bisa digugu dan ditiru.

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Friday, 20 February 2015

Program E-Sabak Kemendikbud



Oleh Dian Marta Wijayanti, SPd
Penulis adalah alumnus SMA Negeri 1 Blora, Penulis buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner?
 
E-sabak oleh Kemendikbud. Foto: Kemendikbud.
Program E-Sabak Kemendikbud menarik untuk dikritisi. Wacana buku elektronik oleh Kemendikbud terkesan buru-buru. Sebab, akan banyak masalah baru yang dihadapi dunia pendidikan jika e-book maupun e-tablet diterapkan. Problematika kurikulum 2013 yang tidak berjalan dengan baik karena “kurang siapnya” stakeholder terkait seharusnya menjadi pembelajaran bersama. Kondisi belum siap jika dipaksakan tentu hasilnya kurang baik pula.

Wacana penggunaan e-sabak mulai dari tingkat Sekolah Dasar akan menjadi polemik baru khususnya bagi guru “belum melek IT”. Belum reda aura panas polemik kurikulum 2013 yang cukup menguras tenaga para pendidik, guru sudah harus dihadapkan pada persiapan kebijakan baru.

Akan sangat berbeda ketika guru menggunakan buku dan tanpa buku. Jelas sangat berbeda penerapan e-sabak pada pendidikan dasar dengan menengah. Secara psikologis dan perkembangan cara berpikir, anak SD/MI masih menyukai permainan. Sedangkan peserta didik jenjang menengah sudah mampu berpikir lebih lanjut.

Kemampuan anak dalam mengoperasikan tablet juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua anak mampu mengoperasikan tablet dengan baik, bahkan ada yang tidak bisa sama sekali. Tidak hanya dari sudut pandang siswa, tidak semua guru juga mampu menggunakan tablet. Pembelajaran dipastikan akan terganggu jika gurunya sendiri masih kebingungan. Hal ini akan berbeda jika guru menggunakan buku.

Tanpa Buku
Terbayang sebuah aktivitas sederhana ketika seorang guru mengatakan “Ayo anak-anak, kita baca halaman 56”, sementara di depan kelas guru masih bingung dengan touchscreen tablet sebagai buku digital. Terlebih lagi jika ada siswa yang bertanya tentang materi di suatu halaman sedangkan gurunya sendiri kesulitan mengoperasikan tablet yang menjadi pegangan.

Siswa yang memiliki kemampuan teknologi atau IT melebihi gurunya ditakutkan akan menertawakan sang guru yang terlihat bingung di depan kelas. Kesulitan menggunakan e-Sabak akan menjadi alasan guru untuk tetap menggunakan buku sebagai acuan. Bukan berarti guru tidak peduli pada perkembangan inivoasi dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, tapi kondisi di lapangan hendaknya menjadi pertimbangan lanjut sebelum kebijakan ini benar-benar diterapkan.

Seperti telah diketahui tablet merupakan barang elektronik bergaransi yang setelah beberapa saat garansi itu akan habis. “Rawan rusak” adalah bagian yang ditakutkan dari e-sabak. Apalagi bagi pengguna yang belum mahir dan terbiasa menggunakan gadget. Barang elektronik memang banyak mempermudah kegiatan manusia. Tapi teknologi juga bisa menyesatkan ketika tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Bisa jadi ketika guru menggunakan e-sabak, perhatian guru terhadap tugas utamanya. Guru lebih sibuk memainkan tablet dibandingkan memperhatikan perkembangan peserta didiknya.

Buku memang bukan satu-satunya sumber dan bahan ajar. Namun buku memiliki peran penting dalam kegiatan pembelajaran. Seperti meskipun sudah ada banyak Buku Sekolah Elektronik (BSE) yang siap diunduh dan dipergunakan sewaktu-waktu, sebagian besar guru merasa lebih mantap menggunakan buku cetak karena dianggap lebih mudah dan fleksibel. Terlebih bagi mereka yang berada di daerah dengan cakupan teknologi dan listrik terbatas. Padahal e-sabak yang berbentuk tablet butuh selalu diisi baterai sebelum dipergunakan dalam pembelajaran. Perlu diingat bahwa tidak semua sekolah memiliki kemampuan yang sama. Kecuali jika pemerataan sarana prasarana serta infrastruktur tiap daerah sudah sama. Kemungkinan penggunaan e-sabak sangat mungkin terjadi.  

Memperkeruh Suasana
Dengan adanya e-sabak, sebenarnya sangat “memperkeruh suasana” pembelajaran di kelas. Media ini tidak terlalu “urgen” diimplementasikan di sekolah karena banyak dampak negatifnya daripada manfaatnya. Dengan buku cetak saja, pembelajaran belum bisa maksimal, apalagi nanti menggunakan e-sabak yang justru akan menimbulkan kesenjangan antara siswa dan guru.

Stigma negatif dan terkesan “main-main” akan melekat pada guru yang menggunakan e-sabak di kelas. Bahkan, saat memegang ponsel saja guru dinilai negatif oleh siswa, apalagi menggunakan gadget atau pun e-sabak.

Alat bantu e-sabak juga hanya bergantung pada energi baterai, sedangkan buku cetak tidak demikian. Buku cetak tidak selamanya buruk, semua bergantung gurunya dan bagaimana cara menyampaikan dan membelajarkannya kepada siswa.

Dalam hal ini, pemerintah perlu mengkaji ulang wacana tersebut. Pasalnya, e-sabak hanya salah satu wahana saja dalam proses pembelajaran. Yang justru harus dibenahi adalah sistem, kurikulum dan kualitas gurunya. Mau memakai e-sabak, laptop, buku cetak, BSE, namun jika gurunya tidak berkualitas, justru sama saja dan akan memperkeruh keadaan. Guru gaptek di sini bukan berarti tidak mau menerima e-sabak, namun justru harus mengutamakan asas manfaat dan keefektifan media atau bahan ajar tersebut.

Seolah-olah, pemerintah hanya mencari proyek yang dampaknya tidak terlalu signifikan bagi pendidikan. Jika mau memajukan pendidikan, justru yang perlu dibenahi dan diganti bukan bahan ajarnya, namun cara mendidiknya. Walaupun memakai e-sabak, namun cara guru mendidikan masih “jadul”, kuno, dan otoriter, maka sama saja tidak membawa geliat positif.

Sebagus apa pun bahan ajar dengan menggunakan e-sabak, jika guru tidak pandai, cerdas, profesional dan revolusioner, maka sama saja tidak memajukan pendidikan. Hanya guru revolusioner yang bisa memajukan pendidikan. Media atau e-sabak hanya salah satu faktor dalam menyukseskan pembelajaran. Sebab, yang utama adalah guru, ya sampai kapan pun, maju dan mundurnya pendidikan ada di tangan guru, buku di e-sabak.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Program E-Sabak Kemendikbud Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora