Harianblora.com Mengucapkan Selamat Menjalankan Puasa Ramadan&Mengajak Warga Jaga Kesehatan&Memutus Penyebaran Corona

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.formacipress.com

Saturday 14 February 2015

Guru Revolusioner adalah Guru Profesional



Semarang, Harianblora.com – Guru revolusioner adalah guru profesional. Demikian inti dari diskusi dan bedah buku berjudul Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner? Yang ditulis oleh Hamidulloh Ibda dan Dian Marta Wijayanti. Diskusi dan bedah buku ini digelar di kantor Smarta School Semarang, Sabtu (14/2/2015) sore. Diskusi ini adalah kerjasama atas inisiatif Smarta School dan dibantu Forum Muda Cendekia (Formaci) Jateng dan juga Lingkar Studi Mahasiswa (Lisuma) Cabang Blora.


Hadir pula beberapa pengurus Forum Muda Cendekia (Formaci) Jawa Tengah, Lingkar Studi Mahasiswa (Lisuma) Cabang Blora dan beberapa kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Semarang. Kalau revolusioner, kata Ibda, sudah pasti dia di atas profesional. “Sebab, revolusioner itu lebih tinggi derajatnya daripada sekadar profesional,” beber Direktur Utama Formaci Jateng tersebut.

Guru revolusioner, katanya, adalah terminologi baru yang ia tulis dalam buku terbitan Kalam Nusantara tersebut. “Kalau secara umum, guru revolusioner itu ya Tan Malaka itu, namun dalam dunia pendidikan guru ini sangat sulit dan bagi kami hanya mimpi. Sebab, untuk menjadi guru profesional saja sulitnya setengah mati, apalagi derajat revolusioner,” terang dia. (Baca juga: Buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner dibedah).

Yang paling tinggi, lanjut dia, ya guru revolusioner. “Ia melakukan perubahan mendasar dan menyeluruh. Ia komplit. Tidak sekadar mendapat sertifikat pendidik profesional dan lulus PLPG maupun PPG maupun PPGJ,” beber penulis buku Demokrasi Setengah Hati tersebut.

Dalam pemaparannya, Ibda mengatakan bahwa idiom guru di Indonesia yang paling waw dan tinggi adalah guru profesional. Namun hal itu dinilai hanya lebih pada teknis, birokratis dan sesuai UUGD tahun 2005, belum secara radikal dan mendasar tentang paradigma didik maupun paradigma ajar.

Jika guru tidak paham detail konsep dan blueprint pembelajaran menyenangkan bagi murid, katanya, maka kondisi kelas pasti kacau. “Ya, kacau. Jika sudah kacau, tugas pertama adalah mengondisikan siswa tenang. Jika belum tenang, mustahil pembelajaran bisa dimulai,” ujar pemerhati pendidikan Pascasarjana Unnes itu.

Artinya, kata dia, minimal guru SD harus memiliki kekuatan mengondisikan murid, terutama kelas rendah, 1, 2 dan 3. “Di jenjang tersebut, murid SD susah dikondisikan jika gurunya gersang dan tidak memiliki dialektika pembelajaran yang baik dan benar,” beber warga Tunjungan, Blora, tersebut.

Senada dengan hal itu, Dian Marta Wijayanti, selaku pemateri juga mengatakan dalam pembelajaran SD, tingkat pemahaman murid sangat beragam. “Guru SD harus pandai menangkap gaya belajar murid SD. Tingkat pemahaman murid, menurut model Gagne  dapat dikelompokkan menjadi delapan tipe belajar meliputi belajar isyarat, stimulus-respon, rangkaian gerak, rangkaian verbal, membedakan, pembentukan konsep, pembentukan aturan, pemecahan masalah atau problem solving,” ujar lulusan terbaik PGSD Unnes itu.

Dilihat dari urutan belajar, kata dia, pemecahan masalah adalah tipe belajar paling tinggi karena lebih kompleks. Namun pakar pendidikan berpendapat bahwa guru bisa melakukan model, tipe, strategi apa saja dalam pembelajaran agar murid-murid memahami materi pelajaran. “Belajar merupakan proses sosial, kelas merupakan minatur masyarakat, terutama di SD harus berbasis belajar bersama teman se kelas untuk memecahkan masalah bersama. Maka dari itu, pembelajaran harus menyenangkan, kondusif dan guru SD harus menguasai banyak model, strategi, pendekatan pembelajaran yang menyenangkan bagi murid,” beber guru SDN Sampangan 1 Kota Semarang tersebut.

Alumnus SMA Negeri 1 Blor itu juga mengatakan pembelajaran menyenangkan di SD mengandung makna pembelajaran yang dirancang bisa mengaktifkan sekaligus mengembangkan inovasi dan kreativitas, sehingga efektif dan menyenangkan. “Guru SD sangat diharapkan mencipta lingkungan belajar kondusif, bermakna, mampu memberikan murid SD keterampilan pengetahuan dan sikap untuk hidup lebih baik, sangat baik, dan maju,” tutur Asesor EGRA USAID Prioritas Jateng itu.

Pembelajaran Menyenangkan
Pembelajaran menyenangkan menurut Dian, adalah  memiliki ciri menggunakan multimetode, multimedia, melibatkan semua indera, dengan praktik dan bekerja tim, memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. “Pembelajaran tersebut juga melibatkan multiaspek yaitu logika, kinestika, estetika dan etika,” jelas PNS tersebut.

Dengan kata lain, ujar dia, pembelajaran perlu mengaktifkan murid dan guru, membuat kreatif pembelajarannya, hasilnya efektif dan tentu saja hal itu semua berlangsung dengan menyenangkan.

Diskusi ini juga dalam rangka memanfaatkan waktu Valentine untuk kegiatan positif. Sebab, para aktivis dan akademisi tersebut diskusi dan bedah buku lebih bermakna daripada sekadar memperingati Valentine yang gersang dan bias maknanya.

Menurut Dia, ada beberapa komponen-komponen utama pembelajaran menyenangkan yang bisa dilakukan guru SD, yaitu kurikulum dan perangkatnya, sarana dan prasarana yang diperlukan, SDM, yaitu guru dan tenaga kependidikan lainnya, manajemen yang tertib, teratur, transparan dan akuntabel dan juga didukung penilaian berkelanjutan.

Semua itu, lanjut dia, perlu diarahkan pada standardisasi mutu pendidikan secara berkelanjutan dalam menghadapi tuntutan lokal, nasional dan global juga perlu dukungan berbagai pihak. “Namun yang paling penting adalah pembelajaran di kelas yang harus didesain guru dengan baik, hal itu hanya bisa dilakukan guru revolusioner,” beber mantan mahasiswa berpestasi Unnes tersebut. (Red-HB12/Hasyim/www.harianblora.com. Foto: Formaci Press).
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Guru Revolusioner adalah Guru Profesional Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora