Lokal

Harian Blora Mengucapkan di Tahun Politik 2018-2019 ini mari kita jaga perdamaian di Blora .

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Tuesday, 3 March 2015

SDM Indonesia, Mampukah Menyongsong MEA 2015?



Oleh Siti Ulfaati
Penulis adalah Ketua BADKO HMI Jateng D. I Yogyakarta, mahasiswi Pascasarjana UIN Walisongo Semarang

Indonesia akan memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (Asean Economic Communty) Desember 2015. Dengan tujuan yang baik itu diharapkan mampu membawa perubahan untuk pertumbuhan ekonomi di Indonesia agar lebih baik. Tujuan dibuatnya ekonomi ASEAN 2015 yaitu untuk meningkatkan stabilitas perekonomian di kawasan ASEAN yang mampu mengatasi masalah-masalah di bidang ekonomi antar negara ASEAN.

Menurut pengamat ekonomi, Hendri Saparini, selama ini, Indonesia memiliki peran cukup strategis di Asean terhadap pertumbuhan ekonomi ASEAN dikarenakan Indonesia merupakan negara ekonomi terbesar keenam di Asia.

Senada dengan Hendri, Serian Wijatno dan Dr Ariawan Gunadi, SH, MH, disela- sela peluncuran buku "Perdagangan Bebas Dalam Perspektif Hukum Perdagangan Internasional" dan dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (15/7/2014) mengungkapkan bahwa Indonesia dapat menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN dengan strateginya. Pertama, manfaatkan hambatan perdagangan untuk mengerem banjirnya produk dan jasa asing. Kedua, ciptakan sumber daya pengusaha yang kompeten melalui pendidikan dan pelatihan. Ketiga, bentuklah forum sengketa perjanjian perdagangan bebas dengan prosedur yang sederhana dan jelas.

Pertumbuhan ekonomi bisa benar-benar menjadi baik ketika sumber daya manusia, sumber daya alam, ilmu pengetahuan dan teknologi, budaya dan modal bisa dikelola dengan benar dan tepat. Jika melihat Indonesia, kita harus akui bahwa sampai sekarang ini pemerintah masih belum mampu memaksimalkan kelima hal tersebut baik di sektor industri, perdagangan, pertanian dan kelautan. Padahal, bila keseimbangan lima elemen di atas dapat berjalan akan mampu menghasilkan karya yang memiliki asas manfaat yang luar biasa baik untuk warga negara Indonesia ataupun orang lain. Telisik punya telisik membangun kelima elemen tersebut sangat lah membutuhkan peran aktif pemerintah.

Salah satu aspek penting yang perlu disiapkan dengan cepat bangsa ini adalah SDM yang kompeten yang merupakan faktor penentu keberhasilan pembangunan dan kemajuan suatu bangsa. Para tenaga kerja dari negara MEA yang memiliki kompetensi kerja yang lebih tinggi, tentunya akan memiliki kesempatan lebih luas untuk mendapatkan keuntungan ekonomi di dalam MEA.

SDM yang siap berdaya saing bisa dihasilkan dari proses pendidikan yang berkualitas dan merata. Hal ini akan membuat SDM mampu mengolah, mengelola dan melestarikan sumber daya alam yang ada sehingga mampu menopang kegiatan ekonomi agar lebih kompetitif. Pemenuhan SDM yang berkualitas dan unggul karena mengusai iptek, akan berpengaruh terhadap struktur industri di masa depan. Apabila sasaran di atas bisa dipenuhi, akan semakin kuat basis industri yang sedang dibangun dan dikembangkan di Indonesia, yang pada gilirannya akan mendorong transformasi struktur ekonomi secara lebih cepat. Selain itu budaya yang menjunjung tinggi adat ke Timur an, gotong royong menjadikan individu yang tidak individualistik dan mau besar dan sukses secara bersama-sama.

Selain itu modal yang memadai juga menjadi faktor pendukung dalam menjadikan usaha lebih maju dan besar. Kelima elemen tersebut membutuhkan stimulan dan peran penting pemerintah dalam memacu masyarakat dalam menghadapi MEA. Dengan demikian, kita harus berusaha dengan keras dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sehingga bisa mengejar ketertinggalan dari negara-negara ASEAN lain.

Akan tetapi melihat keadaan pemerintah saat ini yang memang tidak sehat menjadikan konsentrasi pemerintah menjadi terpecah. Lihat saja fenomena yang terjadi akhir- akhir ini. Kita masih saja disibukkan dengan permasalahan- permasalahan birokrasi yang memang tidak kunjung selesai.  Perang pendapat antar pemangku kebjakan baik DPR atau lembaga lainnya, Pilkada, korupsi dan peristiwa yang masih hangat adalah persetruan antara KPK dan POLRI. Hal ini menjadikan pemerintah menjadi terkungkung dan pada akhirnya mengabaikan hal- hal penting termasuk MEA. Sementara negara lain sudah lebih siap untuk menghadapi MEA.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi menyatakan Indonesia butuh bersiap diri menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015. Menurut dia, selama ini tak terlihat persiapan pemerintah Indonesia maupun pengusaha untuk menghadapi AEC. Menurutnya, AEC harus bisa dihadapi oleh pemerintah bersama pengusaha, juga masyarakat.

Contoh konkret dari ketidaksiapan ini salah satunya adalah ketidak tahuan masyarakat tentang MEA. Para pelaku ekonomi di daerah belum tentu mereka mengetahui atau bisa jadi mendengar pun tidak pernah. Ini artinya pemerintah masih sangat kurang dalam mensosialisasikan. Padahal dalam mengantisipasi dampak negatif dan positif dapat dilakukan dengan sosialisasi yang baik, khususnya untuk pelaku ekonomi daerah dan pemerintah daerah. Sebab, dalam menyongsong MEA ini bukan hanya pengusaha besar saja yang memiliki andil melainkan para pelaku usaha daerah pun mempunyai peran penting dalam menghadapi persaingan global. Pengusaha di daerah harus bangkit agar menjadi pemain utama dan bukan hanya  jadi sekedar penonton.

Selain itu contoh lain dari ketidak siapan Indonesia dalam menghadapi MEA adalah kurangnya kemampuan kita dalam berbahasa asing dan pola berpikir yang masih tradisional. Masyarakat kita pada umumnya lebih senang mencari aman di daerahnya masing-masing. Entah, mereka pernah berpikir atau tidak untuk keluar dari daerah mereka ke daerah lain atau negara lain untuk berkembang dan menjadikan negara kita tidak tertinggal dengan negara lain. Hal ini disebabkan karena ketidak tahuan dan ketidak mampuan baik dalam bahasa maupun yang lain.

Lemahnya daya saing sumber daya manusia ini tercermin dalam rendahnya kualitas SDM di Indonesia. Berdasarkan fakta yang dirilis Human Development Index akhir- akhir ini Indonesia masih berada di posisi 121 dari 185 negara. Seharusnya fakta ini menjadikan pemerintah untuk segera melakukan pembenahan dalam memaksimalkan daya saing SDM. Hal ini tentunya harus dimulai dari kualitas pendidikan dan kesehatan. Kualitas SDM sebenarnya hanyalah salah satu masalah mendasar yang dialami Indonesia. Tanpa SDM yang berkualitas rakyat di daerah tidak mampu mengolah kekayaan alam yang berlimpah menjadi produk yang bernilai ekspor. Peningkatan SDM yang masih menjadi pekerjaan rumah bangsa Indonesia ini tak kunjung usai.

Di tengah ketidaksiapan Indonesia menghadapi MEA 2015, kita harus tetap optimis dan sadar bahwa semua ini menuntut kita untuk segera berbenah untuk memperbaiki kualitas SDM melalui mutu pendidikan yang merata tanpa kesenjangan. Sehingga kita akan percaya diri untuk bersaing dengan bangsa lain. Jika tidak jangan harap kita bisa berkontribusi di era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 dan menjadikan itu semua sebagai peluang besar, justru akan menjadi musibah yang pada akhirnya akan menimbulkan masalah lebih besar.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: SDM Indonesia, Mampukah Menyongsong MEA 2015? Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora