Lokal

Harian Blora Mengucapkan Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2017. Semoga kita semua bisa menjadi guru bagi diri sendiri dan keluarga yang bisa digugu dan ditiru.

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Friday, 30 January 2015

Agama adalah Penyakit



Judul buku: Agama adalah Penyakit
Penulis: M Yudhie Haryono, dkk
Penerbit: Grafika Media Sidoarjo
Cetakan: Pertama, 2011
Tebal: 239
Harga: Rp 50.000
ISBN: 978-602-19154-0-0


Peresensi: Nailul Mukorobin
Staf Pengajar Psikologi Agama FIP Universitas Negeri Semarang

Agama ketika mati, ia terlahir kembali. Nyawanya semiliar. Sebab, ia diwariskan, diajarkan, dan dihidupi serta menghidupi manusia. Bagai angin, ia bergerak, hidup, memvirusi manusia di mana saja dan kapan saja. (Hlm.iii). Dengan alasan fundamental itulah, penulis buku ini menganggap agama adalah penyakit. Bisa menyesatkan, sekaligus mencerahkan.

Menurut penulis buku ini, banyak orang beragama mengalami “candu metafisik”. Merasa apa yang dilakukan adalah metafisika. Padahal, metafisik yang romantis dapat mengakibatkan kebiasaan berfantasi yang akan menjadikannya mengalami “ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan nyata”.

Buku ini secara tegas juga mendekonstruksi “cacat bawaan agama”. Banyak orang beragama menilai dirinya dan agamanya paling benar dan menyalahkan yang lain. Itu lah wujud agama membawa cacat dan virus. Dus, dari itu lah agama yang seharusnya menjadi alat penyemai kebersamaan, justru melahirkan fanatisme buta dan menyakiti pemeluknya sendiri.

Cacat Bawaan Agama
Sejak lahir, semua agama membawa pesan yang mirip secara seimbang, yaitu ketuhahan atau tauhid, kemanusiaan dan lingkungan. Sayanganya, dimensi ketuhanan lebih besar daripada kemanusiaan dan lingkungan. Padahal jika mengacu pada ayat-ayat Alquran, dimenasi kemanusiaan dan lingkungan lebih banyak jumlahnya. Sebab, 2/3 Alquran berisi dimensi kemanusiaan dan lingkungan. (Hlm. x).

Mau bukti? Lihat saja pendapat Alquran tentang orang yang mendustakan agama. Pada surat Alma’un/108: 1-7 mereka yang mendustakan agama bukanlah yang mengingkari Tuhan semata, melainkan orang yang 1) menghardik anak yatim, 2) tidak memberi makan orang miskin, 3) bersikap sombong dan ke 4) tidak mau berzakat.

Secara berurut, buku ini akan dimulai dengan menggali kembali gagasan-gagasan Nurcolich Madjid sebagai peletak dasar Neo-Modernisme Islam di Indonesia. Kemudian, diikuti tesis Karen Armstrong tentang fundamentalisme agama.

Berikutnya, tokoh Albert Houroni yang menjadi sejarawan ensiklopedis agama-agama Ibrahimian. Dilengkapi riset dari Philip K Hitti yang mendeskripsikan sejarah bangsa Arab dengan sangat monumental. Kemudian, kita akan berselancar melihat mazhab Wilfred Cantwell Smith dalam kajian sosiologi agama. (Hlm. xi).

Tak hanya itu, dalam buku ini mendekonstruksi pemikiran Kuntowijoyo serta Edward W. Said tentang gagasan semiotika dan orientalisme. Juga Frithjof Schoun, sang nabi penemu filsafat perennial yang dijuluki one level under all propgetic.

Agar tak kering, buku ini juga mengangkat pemikiran Huston Smith, Mircea Eliade dan juga Paulo Coelho sang pendiri mazhab pauloisme.

Buku ini pernah diresensi oleh Hamidulloh Ibda yang mengusung judul “Benarkah Agama itu Penyakit” di situs NU. Ibda mengatasnamakan peneliti dari Centre for Democracy and Islamic Studies (CDIS) Semarang. Namun ia mendapat kritikan keras dari berbagai elemen, terutama warga NU itu sendiri.

Penulis, pada halaman (xii) juga meminta kritik dan saran atas buku kontroversial ini. Sebab, cara penulis dalam mencintai agama dan merayakan keberagaman adalah dengan mengusung pluralitas tanpa batas.

Sambil bertuhan dan beragama, mari membuka diri dan selamat membaca.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Agama adalah Penyakit Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora