Lokal

Harian Blora Mengucapkan Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2017. Semoga kita semua bisa menjadi guru bagi diri sendiri dan keluarga yang bisa digugu dan ditiru.

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Saturday, 31 January 2015

Cara Menulis Artikel di Media Massa



Oleh Dr Teguh Supriyanto, M.Hum
Penulis adalah Dosen Sastra di Unnes Semarang dan Direktur Politeknik Banjarnegara

Dr Teguh Supriyanto, M.Hum
Menulis merupakan keterampilan proses, sebuah katerampilan berbahasa yang sangat dibutuhkan pada masa sekarang.  Oleh karena itu, kemampuan menulis tidak dimiliki dengan sendirinya. Kemampuan ini memerlukan waktu yang lama untuk diperolehnya. Dengan berlatih menulis secara terus menerus, seseorang dapat memperoleh kemampuan menulis.  Pandangan yang menyatakan bahwa menulis itu merupakan bakat bisa jadi menjadi mitos manakala tidak dipraktikkan. Bagaimana kita tahu bahwa kita berbakat menulis tanpa mencobanya?

Kegiatan menulis sebenarnya adalah kegiatan mengekspresikan ide-ide dan gagasan melalui bahasa tulis. Di samping berlatih secara terus menerus, dalam menulis juga diperlukan kreativitas. Oleh karena itu, menulis sebenarnyalah kerja kreatif.

Mengapa seseorang perlu menulis? Seseorang yang kreatif dan profesional di bidangnya membutuhkan alat untuk menyalurkan gagasan-gagasannya. Dengan demikian kerja menulis juga dapat dikatakan sebagai kerja menuangkan gagasannya yang ingin disebarkan kepada teman sejawat atau masyarakat umum. Inilah sebenarnya tugas seorang intelektual, yaitu menyebarkan gagasan pikirannya kepada khalayak. Dengan demikian, tidaklah aneh jika sekarang seorang guru dituntut harus mampu menulis artikel di media.

Ciri-ciri guru profesional adalah mampu mengkomunikasikan pengetahuannya dengan teman sejawat melalui hasil karyanya yaitu tulisan ilmiah. Itulah sebabnya, seorang guru yang mau naik pangkat harus mampu menulis karya ilmiah dan dimuat dalam jurnal ilmiah. Dengan peraturan tambahan, sekarang guru bukan saja menulis artikel ilmiah di jurnal tetapi harus mampu menulis karangan ilmiah populer di media massa. Hal ini sesuai dengan tuntutan mengenai profesionalisme berkelanjutan guru.

Persoalan muncul manakala seorang tidak terbiasa menulis. Mereka akan kesulitan menentukan mulai dari topik apa yang akan ditulis sampai pada persoalan dimana tulisan ini dipublikasikan. Makalah ini mencoba mengurai persoalan yang pertama karena justru dalam persoalan itu banyak masalah teknis yang harus dipecahkan terlebih dahulu. Persoalan kedua memang sangat penting namun persoalan ini berkait dengan kualitas serta kaidah selingkung media yang akan mempublikasikan hasil tulisan tersebut.

Dalam paper ini dibahas  prinsip yang paling mendasar, yaitu persoalan jenis artikel di media massa, yaitu karangan ilmiah populer dan prinsip-prinsip menulis karangan ilmiah populer. Pandangan ini didasarkan pada asumsi bahwa peserta seminar ini sudah menguasai bagaimana menentukan topik karangan, bagaimana mengembangkan topik tersebut menjadi kerangka karangan, serta menyelesaikan karangan tersebut ke dalam artikel (ilmiah popular) di media.

Pertama-tama dibahas mengenai berbagai istilah mengenai artikel populer. Artikel media massa disebut juga artikel popular.  Istilah pertama berhubungan dengan karya ilmiah populer. Karya ilmiah populer sebenarnya bagian dari karya ilmiah. Dengan demikian, istilah artikel berhubungan dengan karya tulis. Jelasnya, karya tulis ilmiah disebut artikel ilmiah. Karya tulis ilmiah populer sama dengan artikel ilmiah populer. Artikel disebut ilmiah karena ditulis dengan cara dan prinsip ilmiah. Misalnya, isi artikel ditulis dengan teknik argumentatif (pernyataan kebenaran karena didukung oleh fakta/data atau didukung oleh teori yang jelas), sistematis (penyajiannya dimulai dengan bagian pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, masalah, tujuan, manfaat, teori yang mendukung, bagian isi atau pembahasan, bagian penutup, dan daftar pustaka), metodologis (penarikan data dan analisis datai didukung dengan teori atau konsep-konsep yang jelas dengan teknik yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah). Bahasa artikel ilmiah yang digunakan adalah bahasa baku. Bahasa baku bersifat denotatif. Perbedaan yang paling mencolok dengan artikel ilmiah populer terletak pada bahasa. Bahasa yang digunakan pada artikel ilmiah populer adalah bahasa populer. Artinya, bahasa populer adalah bahasa yang komunikatif dan sudah dikenal masyarakat awam.

Jenis artikel lain adalah artikel populer. Artikel populer merupakan salah satu jenis karya ilmiah populer. Disebut salah satu jenis karena terdapat jenis artikel lain yang tergolong sebagai karya ilmiah populer. Kita juga sering mendengar dan membaca istilah tulisan jurnalistik. Dalam beberapa pustaka, tulisan jurnalistik tidak melulu tulisan berita tetapi juga ada artikel, esai, dan feature. Gamblangnya, artikel populer dapat juga disebut sebagai jenis artikel ilmiah populer tetapi juga boleh disebut salah satu jenis tulisan jurnalistik.

Istilah esai didefinisikan sebagai karangan yang sedang panjangnya, biasanya ditulis dalam bentuk prosa, yang mempersoalkan suatu persoalan secara mudah dan sepintas lalu. Persoalan tersebut merupakan persoalan yang merangsang hati penulis. Esei umumnya memaparkan persoalan dari bahan tulisan yang dipersoalkan kembali dan tidak dicari jalan keluarnya. Ia dipaparkan dengan cara terbuka, artinya pembaca disodori persoalan tersebut.

Tulisan feature merupakan jenis tulisan kreatif yang dirancang untuk memberi informasi sambil menghibur tentang suatu kejadian, situasi, atau aspek kehidupan seseorang. Selanjutnya, menyitir pendapat Williamson dinyatakan bahwa tulisan feature setidaknya mengandung unsur kreativitas (dalam penciptaannya), informatif (isinya), menghibur (gayanya), dan subjektif (penuturannya). Williamson menganggap bahwa ketiga unsur kreatif, informatif, dan menghibur mutlak ada. Selanjutnya Williamson menggolongkan jenis feature ke dalam tiga jenis, yaitu news feature, knowledge feature,  dan human feature. Unsur subjektif mestilah ada pada jenis human feature. Dijelaskan bahwa news feature diambil dari berita (hard news). News feature lebih menekankan pada kejadian atau peristiwa beserta proses timbulnya peristiwa tersebut.

Feature pengetahuan (knowledge feature) berisi informasi yang lebih ilmiah karena data dan informasi lebih lengkap tentang suatu pengetahuan. Ciri jenis  feature ini adalah kedalaman pembahasan materi dan keobjektivan pandangan penulisnya. Ia disajikan secara deskriptif. Human feature lebih menonjolkan pada situasi yang menimpa seseorang dengan cara penulisan yang menyentuh.

Istilah artikel itu sendiri muncul untuk menunjuk pada jenis tulisan yang berisi sikap atau pendirian penulis yang disertai alasan dan bukti sebagai pendukung pendirian tersebut. Dapat disimpulkan bahwa ratikel itu tulisan yang berisi fakta suatu peristiwa berikut masalah yang disertai argumentasi berdasar teori keilmuan dan bukti yang mendukung fakta tersebut. Oleh karena itu, penulis artikel umumnya dilihat dari sudut pandang keilmuan merupakan bidangnya.

Artikel populer jika ditinjau dari segi bahan ada dua, yaitu artiukel populer yang merupakan tanggapan dari artikel yang sudah ada dan artikel populer baru. Dengan demikian, langkah menulis kedua artikel tersebut tentunya sangat berbeda.

Yang pertama, artikel yang menanggapi artikel tentulah berangkat dari ketidaksetujuan atau “menggarisbawahi” terhadap artikel yang sudah dimuat di media massa. Tujuan penulisan artikel jenis ini dengan demikian adalah upaya meluruskan, melengkapi, atau bahkan membetulkan pandangan-pandangan yang sudah dimuat di artikel sebelumnya serta dapat saja menegaskan (mendukung) dengan cara melengkapi pandangan-pandangan yang sudah dimuat di media massa dengan penulisan artikel baru.

Beberapa prinsip dan langkah yang harus kita lakukan, sebagaimana dirumuskan adalah (1)identifikasi masalah (2) studi pustaka, (3) menyusun kerangka artikel, (4) mengembangkan karangan. Pada tahap awal adalah identifikasi masalah. Yang dimaksud adalah anda membaca artikel secara cermat lalu mencatat bagian pandangan-pandangan yang mungkin tidak anda setujui atau mungkin anda setujui namun kurang data pendukung. Langkah kedua adalah bagian studi pustaka. Langkah yang kita lakukan adalah mencari referensi pokok persoalan yang memancing untuk ditanggapi. Misalnya tentang artikel sertifikasi guru.

Dalam artikel tersebut anda misalnya tidak setuju dengan argumen atau pandangan penulisnya. Anda melakukan pengumpulan data dan teori sebagai bahan argumentasi anda. Langkah menyusun kerangka artikel dimulai dengan judul karangan. Pemilihan judul karangan sebaiknya memperhatikan segi “keterbacaan” (kemedol) yang disesuaikan dengan kaidah selingkung media massa yang akan dituju. Kemudian judul tersebut diurai menjadi sub-subtopik yang disesuaikan dengan persoalan pokok sehingga akan tampak jelas pandangan yang berbeda antara artikel yang ditanggapi dengan artikel yang akan ditulis. Dalam langkah pengembangan, yang perlu diperhatikan adalah kelengkapan argumen yang mendasari pandangan yang berbeda itu.

Jika penulisan artikel populer bermaksud menanggapi tulisan atau artikel yang sudah terbit, menulis artikel baru sebagai langkah awal justru melakukan studi pustaka. Melalui studi pustaka kita memperoleh berbagai informasi. Melalui studi pustaka kita juga mendapatkan berbagai persoalan. Langkah berikutnya adalah menentukan persoalan atau topik artikel. Dalam penentuan topik, aspek yang harus diperhatikan adalah dukungan data atau referensi teori. Langkah selanjutnya menentukan tujuan penulisan.

Penulisan artikel ini akan ditulis dalam rangka tujuan apa? Apakah akan memberikan informasi, memberikan pembelajaran, mempengaruhi pembaca? Pada langkah ini penulis juga menentukan media massa yang akan dituju yang sesuai dengan misi media tersebut. Kaidah selingkung media, bahasa media yang dapat digunakan untuk sasaran pembaca apa dari golongan pembaca apa harus  sudah diperhitungkan dengan cermat. Misalnya bahasa Kompas sangat berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam Suara Merdeka, Wawasan,dll.

Selanjutnya, kita menulis draft karangan yang didasarkan pada sub-subtopik yang sudah kita susun tersebut. Draft karangan disesuaikan dengan karakter tulisan, gaya tulisan, kepaduan dan kecukupan, serta panjang artikel yang disesuaikan dengan media yang akan dituju. Struktur artikel populer sama dengan karngan ilmiah, yaitu terdiri dari pendahuluan, isi, dan penutup. Langkah terakhir adalah mengembangkan draft tulisan menjadi artikel populer. Sebelum dikirim ke media sebaiknya dilakukan  penyuntingan dengan memperhatikan argumentasi sebagai penguatan, pilihan kata yang populer dan gampang dimengerti pembaca sesuai dengan bahasa media yang dituju.

Sebagai penutup,  dapat disimpulkan bahwa menulis artikel populer merupakan ketrampilan proses yang harus dilatih secara terus menerus. Bahan menulis artikel dapat didapat dari aneka peristiwa sehingga membutuhkan berbagai informasi.

Informasi paling efektif adalah melalui pembacaan atau studi pustaka. Melaluinya, kegiatan studi pustaka dapat diperoleh informasi sekaligus diperoleh referensi teori dan data pendukung. Data tersebut nantinya dapat digunakan sebagai dasar argumentasi pandangan penulis.

Pustaka Rujukan
Suseno, Slamet.1997. Teknik Penulisan Ilmiah Populer. Jakarta: Gramedia.
Paper ini pernah dipaparkaan dalam pelatihan jurnalistik di gedung PWI Semarang tahun 2010.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Cara Menulis Artikel di Media Massa Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora