Lokal

Harian Blora Mengucapkan Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2017. Semoga kita semua bisa menjadi guru bagi diri sendiri dan keluarga yang bisa digugu dan ditiru.

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Wednesday, 21 January 2015

Blora Digowo, Arab Digarap, Barat Diruwat



Semarang, Harianblora.com - Blora Digowo, Arab Digarap, Barat Diruwat. Demikian tema besar dalam diskusi yang digelar Lingkar Studi Mahasiswa (Lisuma) Cabang Kabupaten Blora, Selasa (20/1/2015). Selama ini, beredar paradigma bahwa Islam itu Arab, Nabi Muhammad Saw adalah Arab, maka kita harus meninggalkan Jawa kita, budaya Blora kita.

Barongan, salah satu budaya Blora.
Maka, banyak orang beranggapan bahwa semua kebudayaan Blora harus ditinggalkan dan umat Islam harus jadi Arab. Padahal, kita disuruh Tuhan jadi orang Blora. Hal itu diungkapkan Ahmad Fauzin, salah satu penggagas Lisuma Cabang Blora.

“Kalau berbicara Blora itu ya ada Barongan, ada Tayub, ada uro-uro, ada nembang, ya ada Samin, ya ada wayang, ketoprak” ujarnya. Diskusi yang digelar Lisuma Cabang Kabupaten Blora ini diikuti beberapa pengurus Lisuma Blora dan Lisuma Jawa Tengah. Lisuma Kabupaten Blora adalah salah satu cabang dari Lisuma Jawa Tengah.

Kami tidak berani meninggalkan itu semua, lanjutnya, karena kita disuruh Tuhan jadi orang Blora. “Itu perintah Allah, aku bukan orang Arab, aku orang Blora,” paparnya. Padahal, katanya, Blora memiliki kebudayaan luar biasa, salah satunya adalah Baronga. “Di Arab tidak ada barongan lo,” ujarnya.

Tuhan itu kan menciptakan keindahan luar biasa, katanya, itu nikmat yang luar biasa. “Ada yang jadi orang Blora, Pati, Demak, Rembang, Semarang. Itu keindahan yang luar biasa, kalau sama semua, lalu makna lita’arafu di mana? Untuk saling mengenalnya di mana?” bebernya.

Senada dengan itu, Muhammad Bayanul Lail, Ketua Umum Lisuma Jawa Tengan mengatakan kita mengapresiasi orang Arab. “Kita jangan memaksa orang Arab jadi orang Jawa, apalagi jadi orang Blora,” tutur mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Walisongo Semarang tersebut.

Bahkan, katanya, kita ini menyanyikan nada Arab melebihi orang Arab. “Kita ini sudah mau menyanyikan lagu-lagu Arab, itu sudah luar biasa. Karena tak mungkin orang Arab mau nembang, apalagi main Barongan,” jelasnya.

Kita ini jangan dipaksa jadi orang Arab, katanya, karena kita sudah mencintai bahasa Arab. “Meskipun Islam bukan Arab, tapi kita tetap mencintainya. Justru, Nabi Muhammad itu nabi universal, kalau nabi-nabi yang lain itu nabi lokal,” terangnya.

Kalau tidak karena Muhammad, ujarnya, kita gak mau bahasa Arab. “Laulaka, laulaka ya Muhammad. Itu jelas, karena tidak karena Engkau ya Muhammad, aku emoh bahasa Arab. Tapi karena Engkau ya Nabi, jangankan bahasa Arab, seribu bahasa yang Engkau cintai, pasti akan kami cintai juga,” tegas mahasiswa UIN Walisongo Semarang tersebut.

Maka dari itu, lanjutnya, prinsip orang Blora adalah Blora digowo, Arab digarap, Barat diruwat. Artinya, sebagai orang Blora, jangan tinggalkan kebudayaan, keluruhan dan nilai-nilai di Blora. Sebagai orang Islam, kita harus menggarap budaya Arab, tidak semua Arab itu Islam, karena Islam dan Arab itu beda. Kemudian, kita juga tak mungkin meninggalkan budaya Barat, maka solusinya, apa saja yang datang dari Barat harus kita ruwat, semua racun-racunnya kita bersihkan dulu sebelum kita pakai.

Saya pernah mengikuti pengajian Maiyah oleh Cak Nun dan Kiai Kanjeng, kalau orang Jawa sudah tak bangga dengan Jawanya, itu sudah ngawur. “Karena Tuhan menyuruh kita jadi orang Jawa, orang Blora, jadi tidak boleh mengingkari hal itu,” tegasnya. (Red-HB34/Foto: Harianblora.com).
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Blora Digowo, Arab Digarap, Barat Diruwat Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora