Lokal

Harian Blora Mengucapkan Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2017. Semoga kita semua bisa menjadi guru bagi diri sendiri dan keluarga yang bisa digugu dan ditiru.

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Thursday, 1 January 2015

Takir dan Pontang dalam Tradisi Tingkeban Blora



Blora, Harianblora.com - Berbicara tradisi tingkeban, baik mitoni dan ngapati, maka kita tak bisa lepas dari Takir dan Pontang dalam Tradisi Tingkeban Blora. Ya, takir secara simpel bisa dimaknai sebagai suatu tempat makanan yang digunakan untuk menaruh beberapa makanan saat tradisi tingkeban. "Takir itu menurut orang Jawa disebut noto pikir, kalau pontang itu ya pontang-panting," tutur Sumardjan, S.Pd, M.MPd selaku pemerhati budaya di Blora. Pada malam tahun baru 2015, Rabu (31/12/2014), ia melakukan tingkeban anaknya Dian Marta Wijayanti yang saat ini mengandung 7 bulan.

Sumardjan yang juga Kepala SDN 1 Tawangrejo Blora mengatakan tradisi tersebut sudah lama dilakukan orang Blora sebagai akulturasi budaya Jawa-Islam. "Takir itu biasanya dijadikan tempat makanan, nasi uduk beserta lauk pauknya, terus ada bubur yang dibungkus daun nangka, rujak tebu, juga ada jarumnya," ujarnya. Takir, berbahan dasar daun pepaya dan janur. Soal bentuk, bergantung kreativitas dan ukuran janur. "Biasanya kalau di Blora cuma buat 7, nanti pas proses kondangan atau hajatan di taruh di depan para hadirin, terus setelah usai dimakan," paparnya. Kalau di Pati, kata dia, semua warga diberi semua. "Tapi kalau di Blora biasanya cuma membuat 7 takir," papar Ketua Kwarran Tunjungan tersebut.

Senada dengan hal itu, Ali Mashar selaku modin Desa Tambahrejo mengatakan tingkeban merupakan budaya Jawa yang bernuansa islami. "Kalau soal ada mandi bagi calon ibu dan ayah, bedudukan, takir pontang, membuang galar, itu cuma tradisi. Bagi saya yang penting justru doanya, karena saat kondangannya kan mengundang warga untuk meminta doa berkah untuk keselamatan dan kelancaran persalinan," paparnya. Imam Masjid Attaqwa Desa Tambahrejo ini juga menyatakan takir itu sebagai wujud kebudayaan Jawa yang bermakna orang yang mau memiliki keturunan harus menata pikirannya. "Makanya namanya disebut takir, menata pikir," ujar perangkat desa tersebut.

Tidak semua masyarakat memiliki budaya unik seperti tradisi tingkeban yang di dalamnya ada beberapa hal yang unik, termasuk pembuatan takir dan pontang. Agar tidak pontang atau pontang panting, lanjutnya, maka yang harus dilakukan calon bapak dan ibu yang akan memiliki anak harus takir, menata pikir. (Red-HB14/Foto: Harianblora.com).



  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Takir dan Pontang dalam Tradisi Tingkeban Blora Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora