Lokal

Harian Blora Mengucapkan Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2017. Semoga kita semua bisa menjadi guru bagi diri sendiri dan keluarga yang bisa digugu dan ditiru.

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Wednesday, 31 December 2014

Tradisi Tingkeban Blora, Ngapati dan Mitoni

Blora, Harianblora.com - Masyarakat Jawa sangat kental dengan budaya, ritual dan acara yang menjadil sombil akulturasi budaya Jawa dan Islam, salah satunya Tingkepan, ada juga yang menyebutnya Tingkeban. Tradisi ini unik dan masih dilakukan meskipun gempuran globalisasi semakin kuat.

Di Jawa Tengah, salah satunya tradisi Tingkeban Blora, Ngapati dan Mitoni dilakukan saat perempuan hamil pertama kali, saat usia 4 bulan (ngapati) dan 7 bulan (mitoni).

Orang Jawa memaknai Tingkepan sebagai sebuah acara adat yang dilakukan untuk memohon kepada Tuhan, agar perempuan yang hamil mendapat kelancaran sampai kelahiran jabang bayi. Pada saat mitoni, digelar kondangan (hajatan) yang mengundang para keluarga dan tetangga. Biasanya, berkat (makanannya) unik, ada takir, pontang, rujak tebu, dan sebagainya.

Saat kondangan, setelah selesai, juga ada acara membuat galar (bambu yang dibelah-belah kecil tapi tidak putus). Biasanya, pembuangan galar diyakini akan menentukan jenis kelamin si jabang bayi. "Jika posisi tengkurap, itu tertanda laki-laki, jika posisi sebaliknya, maka si jabang bayi perempuan," ujar Sumardjan, yang pada Rabu (31/12/2014) menggelar acara tingkeban mitoni di rumahnya. Menurut Sumardjan yang juga Kepala SDN 1 Tawangrejo, Blora, tingkepan menjadi ritual Jawa yang sangat unik.

Bagi sebagian daerah, yang wajib melakukan tingkepan hanya pijak laki-laki (calon bapak), namun ada juga yang kedua belah pihak, baik pihak laki-laki atau pun pihak perempuan (calon ibu).

"Setelah kondangan dan buang galar selesai, keluarga yang termasuk anak kandung juga menggelar bedudukan." papar Sekretaris PGRI Kecamatan Tunjungan, Blora tersebut. Menurutnya, bedudukan merupakan kegiatan berputar di dalam rumah yang diikuti keluarga juga calon bapak dan ibu yang mengandung. Saat berputar, juga dibacakan selawat nabi, yang di tengahnya ada makanan, mulai dari nasi dan lauk-pauk, juga buah-buahan dan telur serta dimasukkan di dalam ngaron juga ada air. 

"Setelah usai berputar 3 kali, selanjutnya tetap berdiri, kemudian keluarga yang paling tua memberi air minum dan meminumkan kepada semua keluarga yang ikut berputar tersebut," ujar lulusan magister manajemen pendidikan tersebut.

Tingkeban di Blora, katanya, sudah diadakan sejak zaman dulu bagi perempuan yang baru mengandung anak pertama. "Tingkepan menjadi ritual Jawa Islam yang bertujuan berdoa kepada Allah agar si jabang bayi dan ibu hamil tersebut mendapat jalan lancar dan keamanan dari sang kuasa," ujarnya.

Selain itu, lanjut Dia, saat tingkepan juga ada buah kelapa dua yang digambari Janaka dan Srikandi. "Kelapa tersebut, setelah digambari, biasanya dipecah, kemudian dijakan bahan campuran rujak tebu yang ditaruh di takir dan berkat yang diberikan kepada warga," paparnya.

Uniknya, lanjut Sumardjan, takir di sini tidak diberikan kepada semua warga, jika di Pati diberikan semua, tapi di sini tidak. "Takirnya, di sini hanya ada 7, bersama bubur abang, kemudian setelah selesai kondangan, biasanya dijadikan rebutan warga bagi yang keluarganya belum memiliki anak," jelasnya. Warga, memercayai makanan dalam takir tersebut membawa berkah bagi keluarganya yang makan, yang belum hamil bisa hamil. (Red-HB14/Foto: Harianblora.com).

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Tradisi Tingkeban Blora, Ngapati dan Mitoni Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora