Lokal

Harian Blora Mengucapkan Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2017. Semoga kita semua bisa menjadi guru bagi diri sendiri dan keluarga yang bisa digugu dan ditiru.

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Wednesday, 29 April 2015

Potensi Gua Kidang Sebagai Hunian di Daerah Karst Blora Pada Masa Prasejarah


Oleh :  Mochamad Jalal Abdul Goni


Lokasi Gua Kidang
Gua Kidang terletak di Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Gua Kidang terletak  ±2,8 km dari Gua Terawang. Gua Kidang sendiri terletak di daerah perbukitan  hutan jati dengan morfologi wilayah yang bergelombang-berbukit.

 Menurut Nurani dan J. Susetyo Edy Yuwono Gua kidang terbentuk akibat reruntuhan chamber besar sehingga menghasilkan lubang vertikal yang sangat besar (2005:16). Akan tetepi disalah satu bagian gua terbentuk chamber dengan atap yang memiliki ruangan yang cukup luas, dengan penyinaran matahari yang bagus dan kelembaban yang baik pula.

Ruangan tersebut menghadap ke arah timur dengan dinding dari batu gamping tegak, dengan lantai yang melandai ke bawah. Disebelah ujung timur gua kidang, terdapat bekas lorong yang tertimbun oleh sedimen dan reruntuhan dinding lorong. Hal itu terjadi karena proses pembentukan gua kidang sendiri yang terjadi akibat pengeringan  aliran sungai bawah permukaan yang kemudian tidak berfungsi lagi. Sehingga dasar gua tertutup oleh endapan agregat tanah. Agregat itu berwujud pasir halus yang terbawa oleh run off ke dalam gua. Gua kidang sendiri memeiliki penynaran matahari sekitar 30%. Hal itu membuat gua kidang layak dan nyaman menjadi tempat hunian karena penyinaran dan kelembaban yang bagus.

Pemilihan Gua Kidang Sebagai Hunian
Alasan utama pemilihan gua kidang sendiri sebagai satu-satunya hunian di daerah karst Bloara adalah morfolgi dan keadaan Gua Kidang sendiri yang layak sebagai tempat hunian. Penyinaran matahari yang cukup, dasar gua yang kering sabagai hasil pengendapan seta tinggi gua yang mencapai 15m membuat sirkulasi udara dan kelembaban udara cukup baik.

Alasan yang kedua di tinjau dari segi keadaan makanan. Telah kita ketahui bahwa manusia prasejarah sangat tergantung kepada alam dalam memenuhi kebutuhan.panagan, tidak terkecuali penghuni Gua Kidang. Dalam mempertahankan.hidpnya, penghuni gua Kidang melakukan penjadwalan musim untuk mengonsumsi makanan.  Hal itu berkaitan dengan sumberdaya yang di sediakan oleh Gua Kidang yaitu binatang invertebrate pada musim kering yang berupa kerang dan siput dan binatang vertbrata pada musim basah. Menurut Nurani hal itu diperkuat dengan bukti stratigrafis yang menunjukkan bahwa lapisan atas didominasi oleh temuan fragmen cangkang dan siput, sedangkan pada lapisan bawah didominasi temuan fragmen tulang (2005:4 ).

Perkembangan Alat dan Teknologi
Hasil penelitian yang dilakukan di Gua Kidang, di temukan berbagai artefak dan ekofak. Sedangkan untuk perkembangan alat sendiri sudah menunjukkan adanya perkembangan, perkembangan itu di tunjukkan dengan penerapan pembuatan  alat baik dari cangkang kerang maupun tulang yang dilakukan dengan maksimal, yang meliputi cangkang class pelecypoda dan class gastropoda.

Sedangkan untuk alat dari batu sendiri tidak menunjukkan perkembangan yang berarti. Salah satu alat dari batu yang di temukan di Gua Kidang sendiri adalah batu pukul yang terbuat dari batu andesit. Dari penemuan ini tampak jelas bahwa  manusia prasejarah penghuni Gua kidang memilih batu yang terbaik untuk memenuhi kebutuhannya. Disamping itu di temukan juga batu rijang merah dan rijang kuning yang di perkirakan pada waktu itu hanya berfungsi sebagai alat pendukung perkakas tulang dan kerang, yaitu sebagai batu asah. Sedangkan rijang merah dan rijang kuding sendiri terdapat pada aliran sungai bengawan solo.

Berdasarkan bukti-bukti di atas, terdapat dugaan yang kuat bahwa manusia prasejarah penghuni Gua Kidang memanfaatkan teknologi batu untuk menciptakan perkakas dari tulang. Hal itulah yang menjadi pembeda antara manusia prasejarah penghuni gua kidang dengan manusia prasejarah di daerah lain, khususnya di pulau jawa. Selain itu teknik pengerasan dengan alat dengan teknik pembakaran dan pengupaman sudah di lakukan oleh mausia prasejarah Gua Kidang.

Pola Pemanfaatan Gua Kidang
Pola pemanfaatan Gua Kidang sendiri tampak dari  pemanfaatan yang dilakukan bersama-sama atau secara berkelompok. Pernyataan itu didasarkan oleh kuantitas dan kualitas temuan sebaran menunjukkan persamaan antar sebaran horizontal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan gua tidak dilaksanakan untuk aktivitas tertentu, melainkan di manfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu. Dengan kata lain Gua Kidang dihuni oleh beberapa kelompok yang menempati lahan tertentu sehingga jejak yang ada di tiap lapisan hamper sama.

Sistem Kubur
Semasa hidupnya manusia penghuni Gua Kidang telah mengenal kepercayaan adanya kehidupan setelah kematian. Hal tersebut terbukti dengan ditemukannya sistem kubur yang diterapkan oleh manusia purba, yaitu temuan rangka homo sapiens baik tulang dan gigi yang di temukan pada Gua Kidang. Pada kedalaman 155cm juga ditemukan pekuburan yang dipekirakan sebagai sistem kubur primer.

Penghuni Gua Kidang
Hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa ahli membuktikan bahwa manusia penghuni Gua Kidang adalah manusia sejenis homo sapien. Data itu diperkuat dengan ditemukannya bagian rangka tubuh homo sapien didalam Gua Kidang. Penemuan itu menunjukkan bahwa Gua Kidang dihuni pada masa holosen.

Ekslorasi Lebih Lanjut
Berdasarkan observasi lapangan yang dilakukan oleh penulis, perlu diadakan sebuah eksplorasi lebih lanjut pada pengelolaan Gua kidang. Hal itu terjadi karena pada kenyataannya tidak dilakukan eksplorasi lebih lanjut terhadap situs Gua kidang. Situs Gua Kidang di biarkan terbengkalai tanpa ada yang mengurus. Banyaknya botol-botol sampah dan berbagai tumbuhan paku yang tumbuh secara liar menjadi bukti akan ketidakadanya perawatan terhadap situs Gua Kidang.

Padahal dalam Undang-undang Cagar Budaya sudah di sebutkan bahwa benda cagar budaya dilindungi oleh Negara. Jika situs Gua kidang dibiarkan terus menerus tanpa perawatan, lama-kelamaana situs ini akan rusak, hal iu terkait dengan dinding dan atap gua yang terbentuk dari kapur yang dapat rusak akibat air.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Potensi Gua Kidang Sebagai Hunian di Daerah Karst Blora Pada Masa Prasejarah Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora