Lokal

Harian Blora Mengucapkan Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2017. Semoga kita semua bisa menjadi guru bagi diri sendiri dan keluarga yang bisa digugu dan ditiru.

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Thursday, 2 April 2015

Buku Hamidulloh Ibda Berjudul Stop Pacaran Ayo Nikah Ajak Pemuda Nikah Tanpa Pacaran



Buku Hamidulloh Ibda Berjudul Stop Pacaran Ayo Nikah ajak pemuda nikah tanpa pacaran. Buku ini merupakan buku kedua yang Ibda tulis secara pribadi. Buku Hamidulloh Ibda pertama adalah Demokrasi Setengah Hati yang diterbitkan Kalam Nusantara.


Buku Hamidulloh Ibda yang berjudul Stop Pacaran Ayo Nikah ini juga sudah dibedah di berbagai tempat, di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Unnes, di Forum Muda Cendekia (Formaci), juga dibedah Gerakan Pemuda Nusantara (GPN) Cabang Pati dan sebagainya.

Prinsip utama menurut penulis, pacaran tanpa nikah atau nikah tanpa pacaran adalah pilihan masing-masing individu. Masing-masing, memiliki pertanggungjawabannya sendiri. Semua ada dampak, efek jangka panjang dan pendek atas semua perbuatan yang diperbuat. Uniknya, buku ini menjadi spirit pribadi penulis yang dijadikan mahar pernikahan yang dilaksanakan pada 1 Juni 2014 lalu.

Pacaran dan nikah, menurut Ibda sangat kontradiksi. Pacaran selama ini dimaknai sebagai hubungan antara laki-laki dan perempuan di luar nikah dengan berbagai aktivitas dan dinamika percintaan. Sedangkan nikah dimaknai sebagai hubungan sah secara agama dan negara sesuai aturan dan syarat yang sudah ditentukan. Namun, kenyataannya masih banyak pemuda memilih pacaran.

Mengapa? Jawabannya sepele, karena tak mengeluarkan banyak modal, ongkos, perjuangan, tapi bisa melakukan pelampiasan nafsu. Itulah kira-kira motivasi pacaran di kalangan kawula muda dewasa ini.

Dalam buku ini, ditulis kesalahan manusia yang paling mendasar bukan hanya ketakutannya untuk menikah, tapi juga pada kesalahpahaman dalam memaknai nikah dan pacaran. Nikah itu bahasa agama, yang seharusnya tidak ditakuti, tapi harus dijalankan, karena dengan menikah, seorang manusia akan sempurna. Banyak laki-laki memutuskan hubungan dengan pacarnya, karena diajak nikah pasangannya, dia tak berani. Inilah fenomena sering terjadi saat ini.

Menikah, menurut mahasiswa Pascasarjana Unnes ini adalah alternatif paling nyata untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Tak ada yang perlu ditakuti untuk menikah, karena Tuhan sudah mengatur jalan dan jalur hidup manusia. Jadi, jika Anda masih memilih pacaran daripada menikah, penulis yakin kehidupan di dunia hanya “gitu-gitu saja”.

Hal yang terpenting, bukan rasa takut untuk menafkahi istri dan memiliki anak. Tapi, yang terpenting adalah perjuangan dan usaha manusia untuk menjadikan hubungan halal dalam hidup. Bahkan, mati harus dibela untuk memurnikan hubungan laki-laki dan perempuan dalam bingkai “pernikahan”.

Manusia di dunia ini harus memiliki prinsip yang harus diperjuangkan. Artinya, di zaman edan seperti ini sulit membedakan antara hitam dan putih, halal dan haram, dan sebagainya. Maka, tak heran jika banyak pacaran-pacaran yang “rusak dan konslet”. Rusak karena tidak diklambeni dengan baju nikah, dan konslet karena banyak pasangan yang LKMD (lamaran kari, meteng dipek). Apakah, Anda mau menjadi korban LKMD? Anda sendiri yang tahu jawabannya.

Dalam buku ini, penulis sengaja hanya mengambil materi tentang pacaran dan munakahat, meskipun tidak sempurna, karena bab munakahat sangat banyak sekali. Sehingga, penulis sengaja mengambil materi substansial dan berhubungan dengan judul buku. Pada bab pertama, penulis menyinggung makna epistemologi pacaran, hukum pacaran, dan manfaat serta kerugian pacaran.

Bab kedua, penulis menegaskan tentang urgensi pernikahan, karena selama ini banyak orang memilih dan berani pacaran, tetapi takut menikah. Bab terakhir, penulis menyinggung tentang konsep ideal keluarga sakinah mawaddah warahmah (Samara) dengan niat menyempurnakan tujuan nikah.

Banyak kesalahan dan kekurangan yang pasti tertulis dalam buku ini, baik secara redaksional dan substansial. Penulis mengharap kritik membangun untuk kesempurnaan ke depan. Bahasa dalam buku ini juga tak terlalu “ndakik-ndakik” dan ilmiah. Sebab, bahasa buku ini sederhana, renyah dan mengutamakan ketajaman isi. Dengan membaca buku ini, Anda sedikit banyak akan menemukan motivasi tinggi untuk menikah, bukan sekadar pacaran. Ku titipkan ide besar untuk berhenti pacaran, dan mengajak untuk menikah dengan pasanganmu.

Setelah membaca buku ini, Anda harus mengambil keputusan. Menjadi manusia baru, atau tetap ikut kekonyolan modern. Berhenti pacaran dan menikah, atau tetap melampiaskan nafsu dengan pacaran. Anda punya pilihan! Setelah membaca buku ini, Anda tidak punya waktu lagi, karena ini adalah masalah waktu, this is about the time, hazal ajal, tidak ada waktu lagi untuk mencari alasan untuk tidak menikah. Selamat memilih, pacaran atau nikah? Akhirnya, selamat membaca, semoga kita termasuk orang yang menemukan kebahagiaan dalam pernikahan. Amin!
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Buku Hamidulloh Ibda Berjudul Stop Pacaran Ayo Nikah Ajak Pemuda Nikah Tanpa Pacaran Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora