Harian Blora menerima rilis tulisan baik berupa berita, juga opini, cerpen dan puisi. Naskah silahkan kirim ke redaksiharianblora@gmail.com

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Thursday, 25 December 2014

Filosofi Kehidupan dari Blora, Budek, Bawur, Bungkuk, Boyok, Bongko



Parmin dan istrinya.
Nglebak, Harianblora.com - Selama ini banyak orang ingin punya umur panjang. Namun, rata-rata umur manusia jarang sampai di atas 80 tahun. Berbeda dengan kakek tua yang tinggal di Desa Nglebak, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora ini. Paimin, nama pendek tapi berumur panjang. Kakek ini mengajarkan Filosofi Kehidupan dari Blora, Budek, Bawur, Bungkuk, Boyok, Bongko saat ditemui Harianblora.com, Kamis (25/12/2014) di kediamannya.

Meskipun ia sudah tidak bisa melihat dengan jelas, namun ingatan, pendengaran dan komunikasinya dengan orang di sekitarnya masih lancar. Berbeda dengan orang pada umumnya, jika sudah berumur 70 an pasti sudah pikun dan organ serta panca inderanya kurang normal. Praktisnya, jika sudah berumur 70 an, rata-rata manusia sudah pikun.

"Wong urip kuwi nek wis budek, bawur, ngko iso bungkuk, boyok lagi bongko," ujarnya dengan bahasa Jawa. Artinya, sebelum mati, prosesnya dimulai dari budek (tidak bisa mendengar), bawur (tidak budek (tidak bisa mendengar), bawur (tidak bisa melihat), bungkuk (tidak bisa tegak berdiri), boyok (sudah tidak bisa bergerak layaknya orang muda) dan bongko alias mati. "Nek aku wis bawur, tapi durung budek, dadi iseh urip suwe," paparnya. Artinya, saya sudah tidak bisa melihat dengan jelas, tapi saya belum tuli, jadi bisa berumur panjang. Menurutnya, ia lahir pada tahun sekitar 1928. "Lahirku nek ora salah tahun 1928," jelasnya dengan Harianblora.com.

Kakek yang kurang lebih berusia 86 tahun ini sudah memiliki buyot (keturunan keempat) juga akan menjadi canggah (keturunan kelima). Pada zaman Belanda dulu, ia sempat melawan penjajah di Blora. Banyak hal yang dibicarakan saat redaksi Harianblora.com ke tempatnya. Sehari-hari, meskipun tidak bisa melihat, namun ia masih beraktivitas layaknya orang muda dan normal. Beliau masih bisa makan sendiri, minum sendiri, ganti baju sendiri, dan uniknya bisa berjalan menuju sumur untuk mandi dan wudhu sendiri tanpa dipandu dan dikawal. Ia hidup bersama istrinya, Darni yang berumur kurang lebih 70 tahunan lebih.

Sebenarnya, menurut pengakuan Darni, Paimin namanya panjangnya ditambah setelah menikah. Setelah menikah, nama tersebut ditambah Harjo Sumarto. "Biyen bar nikah jengenku ditambahi Paimin Harjo Sumarto," ujar Darni. Artinya, zaman dulu setelah nikah namanya ditambahi Paimin Harjo Sumarto. Banyak nilai-nilai yang diajarkan kakek yang sudah berumur kurang lebih 86 ini. Meskipun hidup sederhana, namun banyak anak-anak, cucu-cucunya menjadi orang sukses. (Red-HB7/Foto: Harianblora.com).
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Filosofi Kehidupan dari Blora, Budek, Bawur, Bungkuk, Boyok, Bongko Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora