Harian Blora menerima rilis tulisan baik berupa berita, juga opini, cerpen dan puisi. Naskah silahkan kirim ke redaksiharianblora@gmail.com

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Sunday, 21 December 2014

Revolusi Pembelajaran Karakter



Oleh Dian Marta Wijayanti
Penulis adalah Alumni SMA Negeri 1 Blora,  Guru dan Asesor USAID Prioritas Jawa Tengah

Istilah “revolusi mental” ramai didengungkan sejak Joko Widodo ditetapkan KPU dan MK sabagai presiden terpilih. Namun, “revolusi mental” bukanlah bentuk terobosan baru. Pasalnya, selama ini berbagai usaha yang telah dilakukan oleh berbagai bidang, baik itu pendidikan, ekonomi, maupun sosial telah ditujukan pada “revolusi mental”. Tepatnya, upaya perbaikan kualitas kehidupan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam semua bidang kehidupan.

Keadaan yang mencengangkan dalam dunia pendidikan pada akhir-akhir ini memang urgen untuk diwaspadai. Banyaknya tindakan kejahatan yang membawa pelajar pada status “tersangka”, selayaknya mengantarkan pendidikan pada revolusi mental pembelajaran yang lebih “nyata”.

Tidak ada pendidikan yang mengajarkan pada keburukan. Pada dasarnya, pendidikan adalah usaha untuk mengubah dari yang kurang baik menjadi baik, dari yang belum bisa menjadi bisa, dan yang dari tidak tahu menjadi tahu. Namun, kondisi lingkungan yang semakin kompleks membuat pendidikan berjalan tidak mulus. Hal ini tampak jelas dari fenomena-fenomena yang telah menjerat pelajar pada mental seorang “penjahat”.

Keberadaan kurikulum 2013 yang mengedepankan “karakter” patut untuk diberi dukungan meskipun dalam implementasinya masih banyak kekurangsiapan. Kurikulum ini didesain untuk mendidik anak menjadi generasi yang tidak hanya “pandai” tapi juga “beradab”. Adab sangat penting untuk dibiasakan oleh anak karena Indonesia tidak hanya butuh orang pintar. Indonesia sudah memiliki ribuan orang pintar, tapi untuk generasi yang beradab sangat tidak mudah menemukannya. Sebagai bukti, tertangkapnya tiga menteri kabinet SBY sebagai tersangka kasus korupsi kekayaan negara. Sangat jelas mereka adalah orang-orang yang tidak diragukan lagi kepandaiannya, tapi sikap yang demikian sungguh memberikan contoh yang tidak baik bagi anak-anak yang seharusnya mengidolakan para tokoh negara sebagai profil pujian.

Menyadarkan Revolusi Mental
Kesempatan yang diberikan oleh kurikulum untuk tidak berfokus pada kemampuan kognitif anak, memberikan waktu yang cukup banyak bagi guru untuk mendidik siswa. Untuk mendidik, guru tidak membutuhkan sedikit waktu. Dalam hal pembiasaan guru butuh banyak waktu untuk mengenal, menyelidiki, mengamati, dan memberikan tindakan terhadap masing-masing karakter siswa.

Dunia tidak bisa menutup mata bahwa anak-anak zaman sekarang tidak dapat disamakan dengan anak-anak zaman dulu. Anak-anak zaman dulu baru diberikan kode dengan sorot mata sudah bisa paham. Tapi “tidak” dengan anak sekarang. Perlu tenaga dan tekanan urat syaraf lebih sabar untuk menghadapi perilaku siswa. Bahkan tidak jarang anak-anak zaman sekarang tidak takut dengan gurunya. Nasihat demi nasihat yang diberikan hanya dianggap sebagai angin lalu dan lelucon yang sama sekali tidak mengena di hati mereka.

Hal demikian tidak banyak disadari oleh orang tua. Ketika anak dititipkan kepada sekolah, banyak orang tua yang mulai lepas tangan. Bahkan tidak jarang yang sama sekali tidak peduli dan tidak melakukan komunikasi terkait perkembangan anaknya di sekolah. Padahal, bisa jadi sikap anak di sekolah dan di rumah “berbeda”. Oleh karena itu, revolusi mental pembelajaran harus sedemikian mungkin dilakukan oleh para pendidik agar “sejak dini” anak terbiasa dengan karakter positif seperti yang telah didesain oleh para pakar pendidikan demi kebaikan bersama.

Siap Berevolusi
Tantangan menjadi guru yang revolusioner dan inovatif tidak hanya sekadar “teori perkuliahan”. Tugas ini nyata dan harus segera dilakukan. Jangan sampai para generasi emas ini menjadi korban kekejaman zaman yang semakin tak terkendali.

Pertama, pendidikan membiasakan siswa disiplin di sekolah. Penanaman disiplin sejak dini sangat penting dilakukan. Selama ini banyak sekolah yang menyusun tata tertib sedemikian rupa tapi dalam penekanan “sanksi” seakan terabaikan. Hal ini berdampak pada kurangnya kejelian baik siswa maupun orang tua terhadap peraturan yang harus dipatuhi. Disiplin diawali oleh guru sebagai model yang akan diteladani oleh siswa. Bagi siswa yang tidak mematuhi peraturan sebaiknya diberikan sanksi sesuai aturan. Jika perlu, guru dapat membuat kontrak sosial di awal pembelajaran dengan diketahui oleh orang tua. Hal ini dimaksudkan agar kedisiplinan yang ditegakkan merupakan harapan bersama yang akan dilaksanakan secara bersama-sama pula. Perlu sinergi antara orang tua, guru, dan pihak sekolah.

Kedua, menjadikan guru sebagai teladan langsung bagi siswa. Guru adalah model yang lebih banyak dianut siswa dibandingkan orang tuanya sendiri di rumah. Sebagai seorang model , hendaknya guru mampu memberikan teladan baik itu dalam hal penampilan maupun sikap, tutur kata, dan tingkah laku. Saat ini siswa sudah berani memberikan penilaian terhadap gurunya. Tidak jarang mereka memberikan penilaian terhadap penampilan guru yang kurang menarik, tutur kata guru yang kurang sopan, maupun tingkah guru yang asing di mata mereka. Maka, guru harus berhati-hati dan mampu memberikan contoh yang baik di depan siswa. Hal ini akan memberikan pengalaman langsung bagi siswa.

Ketiga, terbuka dalam pemberian penilaian sikap. Artinya, anak diberi tahu penilaian sikap apa yang selama pembelajaran akan diamati oleh guru. Anak juga diberi kesempatan untuk memberikan penilaian bagi teman dan dirinya sendiri sebagai penilaian diri. Dengan begitu, anak akan terbiasa untuk saling mengingatkan dalam bersikap. Hal ini memang agak mengkhawatirkan jika orientasi anak hanya berpihak pada nilai. Namun, hal itu bisa ditutupi dengan nilai-nilai “pembiasaan” jika penilaian seperti ini dilakukan dalam setiap hari. Kebiasaan yang dibudayakan akan lebih tertanam dibandingkan nilai-nilai yang hanya diwujudkan dalam bentuk teori.

Revolusi mental pembelajaran tidak dapat berjalan jika guru hanya berfokus pada instrument penilaian yang disusun. Komunikasi merupakan “jembatan” utama untuk menyukseskan visi perbaikan karakter siswa. Sinergi orangtua, sekolah, dan masyarakat adalah jawabannya. Saatnya merevolusi pembelajaran
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Revolusi Pembelajaran Karakter Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora