Lokal

Harian Blora Mengucapkan Selamat Hari Santri Nasional. Semoga Kita Semua Mendapat Berkah dari para Kiai, Santri dan Ulama Nusantara.

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Saturday, 20 December 2014

Nglebak Blora Cintaku



Oleh Dian Marta Wijayanti
Penulis adalah Penulis Buku, Alumni SMA Negeri 1 Blora

Rasanya seperti diguling-guling dan diremas-remas. Mata pun seakan tak mampu berkedip untuk tetap siaga memperhatikan kanan dan kiri. Batu-batu besar seakan tak punya malu memunculkan wajahnya. Dengan berani batu-batu itu melawan aspal yang hanya sedikit menempel dalam waktu yang singkat. Aspal yang tinggal kenangan itu kini tergantikan oleh batu-batu dan tanah kusam yang mampu mengocok setiap pengendara yang melewati jalan tersebut.

Berikut hanya sedikit gambaran jalan menuju desa terpencil nan damai di tengah hutan yang diberi nama desa Nglebak kecamatan Menden Kabupaten Blora. Yups, secara geografis desa ini memang masih termasuk kabupaten Blora. Namun siapa sangka kalau masyarakat di desa tersebut lebih mengenal kota Ngawi daripada kota Blora. Bahkan sebagian besar dari mereka belum tau apa itu Blora. Mereka hanya tau beridentitas penduduk Blora.

Namun ketika ditanya bagaimanakah Blora itu? Mereka hanya mampu menjawab “Saya lebih mengenal Ngawi daripada Blora”. Maklum saja, secara geografis kabupaten Ngawi memiliki jarak lebih dekat daripada kabupaten Blora. Pengaruh budaya Jawa Timur bagi mereka pun lebih kental daripada budaya Jawa Tengah.

Bahkan kehidupan sehari-hari mereka lebih dekat pada kehidupan rakyat Jawa Timur-an. Sedikit contoh betapa dekatnya mereka dengan kota Ngawi adalah ketika penduduk desa Nglebak membeli kendaraan baik itu sepeda motor, mobil ataupun truk. Mereka lebih memburu plat nomor “AD” daripada “K”. Bahkan mereka siap untuk menyewa KTP teman mereka yang tercatat sebagai penduduk Ngawi agar mendapatkan plat “K”.

Cara hidup yang ada disini pun masih tergolong unik. Jika disebagian wilayah rasa kekeluargaan tinggal sebuah cerita. Berbeda dengan yang terjadi di Desa Nglebak Kecamatan Kradenan Kabupaten Blora. Hampir satu desa adalah bersaudara.

Dengan kata lain mereka menganggap semua masyarakat sebagai saudara. Saling tolong-menolong adalah suatu keharusan yang tak perlu meninggikan imbalan. Seperti contoh ketika ada salah satu anggota masyarakat yang mempunya kerja misal nikahan, khitanan, maupun syukuran bayi. Keluarga yang mempunyai kerja tidak perlu satu persatu memberikan undangan ataupun seserahan nasi kotak kepada masyarakat lainnya untuk mengundang kehadiran.

Cukuplah sebakul nasi putih, seplastik ukuran 1 kg sayur opor, dan bumbu-bumbu sederhana lainnya dikirimkan kepada perangkat dan sesepuh desa, masyarakat disini menyebutnya “munjung”. Munjung biasanya dilakukan oleh seorang lelaki yang sudah cukup dewasa dengan menggendong makanan yang sudah disiapkan tadi kepada keluarga yang dipunjung(perangkat dan sesepuh desa”.

Cara memberikannya pun tergolong unik. Lelaki yang munjung tadi mencari pemilik rumah(dikhususkan kepada keluarga/ yang ditetuakan) kemudian duduk di bawah sambil memegang tangan yang punya rumah, dengan kata-kata lirih menyampaikan pesan dari siapa dan untuk acara apa punjungan itu diberikan. Setelah pemilik rumah menerima, barulah pengirim punjungan pulang ke rumahnya.

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Nglebak Blora Cintaku Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora