Lokal

Harian Blora Mengucapkan Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2018.

Latest News

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Friday, 19 December 2014

Aku dan Bidik Misi



Oleh Marcellina Elen Septianti
Penulis adalah Peraih Bidikmisi Universitas Negeri Semarang

Namaku Marcellina Elen Septianti, biasa dipanggil Elen. Aku lahir dari keluarga sederhana, pada tanggal 5 September 1993 di Cilacap, jadi saat ini usiaku baru 19 tahun. Aku terlahir dari kedua orang tuaku bernama Antonius Sutriadi dan Poniati, aku anak pertama dari 3 saudara, aku mempunyai 2 adik yang saat ini masih duduk di bangku SMP kelas 2 dan kelas 3 SD. Dari kecil aku terbiasa hidup disiplin, mandiri, dan bertanggungjawab terhadap segala sesuatu. Ibuku seorang buruh swasta dari sebuah Rumah Sakit di Cilacap, yang memulai kariernya benar-benar dari nol hingga sekarang apa yang beliau cita-citakan menjadi kenyataan.

Aku sangat bangga memiliki sosok ibu seperti beliau, semangatnya tak pernah padam, apalagi ketika setelah bapakku meninggal, kehidupan kami berubah 1800. Dahulu bapakku bekerja sebagai seorang kenek truk tangki pembawa minyak mentah disalah satu perusahaan di Cilacap, gajinya terbilang lumayan. Setiap apa yang menjadi kebutuhan anak, orang tua selalu memenuhi. Namun berbeda ketika bapak mengalami kecelakaan kerja hingga meninggal.

Pada waktu itu aku sedang duduk di bangku SMP kelas 1, dan adikku yang cewe masih kelas 1 SD dan adikku lagi yang cowok masih berumur 1.5 tahun. Dan selama 7 tahun lebih ibuku membesarkan kami bertiga sendirian dengan gaji yang dari dahulu hingga sekarang tidak pernah mengalami kenaikan yang signifikan, hingga saat ini pun gaji ibuku sekitar 750.000 rupiah saja. Saya merasakan berangkat sekolah (SMP) sambil menggendong bayi (adikku yang paling kecil) untuk dititipkan di tempat nenek, saya pun merasakan bagaimana sekolah dari SMP-SMA tidak diberi dan meminta uang saku, saya juga merasakan berangkat sekolah(SMA) dengan berjalan kaki dan terkadang naik sepeda. 

Kami hidup penuh dengan keprihatinan, aku kadang merasa kasihan dengan ibu. Dari SMP hingga SMA aku berusaha mencari beasiswa atau keringanan biaya, sehingga tidak terlalu membebankan ibuku. Dengan doa dan usaha, akhirnya SMP aku mendapatkan dana BOS hingga SMA yang tidak membayar SPP sama sekali selama 3 tahun hingga lulus, dan membayar uang gedung hanya separuh dari kewajiban. Aku merasa bersyukur bisa sedikit meringankan beban ibuku. Waktu kelas 2 SMA aku pernah bekerja sebagai pramuniaga seusai sekolah hingga jam 10 malam, namun hanya bertahan selama 3 hari karena guru SMA-ku tahu, aku dilaporkan ke BP dan dipanggil untuk berhenti, karena dikawatirkan akan mengganggu sekolahku. Aku berusaha mencari biaya tambahan, ya hanya sekedar mencari uang untuk jajan atau beli pulsa, karena aku tidak enak hati jika meminta ibuku. 

Kehidupan kami benar-benar penuh perjuangan. Aku sempat pesimis antara ingin melanjutkan kuliah atau tidak. Keinginanku untuk kuliah sangat besar waktu itu, namun melihat biaya kuliah yang mahal sangat mustahil bagi ibuku untuk membiayai. Melewati guru BP aku mencari informasi beasiswa, ternyata aku dikenalkan dengan Bidik Misi. Itulah yang menjadi motivasiku agar aku bisa belajar maksimal, aku mencoba mendaftar SNMPTN tertulis lewat jalur Bidik Misi dan waktu itu memilih UNNES pendidikan Matematika dan pendidikan Fisika, namun sayang, belum rezekinya, aku gagal. Aku merasa tidak punya harapan lagi untuk kuliah.

Singkat cerita, ibu mencoba membuat usaha kecil-kecilan yaitu berjualan kerupuk, dari menggoreng hingga dipasarkan. Aku mengisi kegiatanku sehari-hari dengan berdagang kerupuk. Dari hasil itu aku menabung untuk kuliah, keinginanku yang keras untuk kuliah sangat didukung oleh ibu namun dengan catatan kuliah di cilacap saja, karena ibu dirumah butuh bantuanku untuk mengurusi kerupuk, adik-adik sekolah dan juga pekerjaan rumah (ibu bekerja dari pk 07.00-14.00). Dan akhirnya aku kuliah di Universitas Wijayakusuma Purwokerto cabang Cilacap dengan biaya dari hasil kerupuk tersebut. 

Kuliahku hanya 2 hari selama 1 minggu, dengan biaya per semester 2 juta rupiah, dan yang kuliah disitu adalah mereka mereka yang sudah bekerja dan sedang mencari ijazah untuk kenaikan pangkat/gaji, sedangkan posisiku waktu itu hanya berjualan kerupuk. Aku mencoba melamar pekerjaan sana sini namun belum ada panggilan. Maklum saja kebanyakan yang dicari adalah minimal D3. 

Saya mulai merasa tidak kerasan disitu, ibaratnya aku kuliah hanya setor uang saja lalu mendapat izasah. Sedangkan ilmu?? Nothing. Aku mulai tidak kerasan dengan kuliahku yang di UNWIKU. Aku berusaha meyakinkan ibuku lagi agar aku diizinkan kuliah di luar kota dengan biaya sendiri. Ibuku menjadi semakin dilema, beliau pun ingin sekali menuruti keinginanku untuk kuliah yang bener-bener kuliah, namun bagaimana dengan adik-adikku yang masih panjang perjalanan sekolahnya. Singkat cerita, ibuku mengizinkan aku untuk berusaha lagi mendaftar kuliah. Izin yang diberikan ibuku waktu itu hampir terlambat, karena SNMPTN tertulis sudah tutup pendaftarannya, dan hanya tinggal 1 Universitas yang masih menyelenggarakan tes tertulis yaitu UNNES, itu saja jalur akhir SPMU. 

Mendengar informasi untuk SMPU jurusan PGSD lokasi kuliahnya di Tegal membuatku sedikit lega, karena tak perlu jauh-jauh ke semarang. Dan akhirnya akupun lolos tes, disitu ada ketentuan registrasi administrasi yaitu membayar sejumlah 7.125.000 rupiah, aku meyakinkan ibuku lagi, bahwa kesempatan sudah di depan mata, yang aku inginkan dari ibuku adalah “kepercayaan bahawa aku akan mengembalikan uang tersebut dengan jalan mencari beasiswa”. Kasih Ibu memang sepanjang masa, beliau mau membiayai uang administrasi tersebut dengan cara meminjam uang di bank dengan jaminan sertifikat rumah. Disinilah tanggung jawab terbesarku, bagaimana caranya?? Belum terfikirkan waktu itu.

Singkat cerita, setelah masuk kuliah dan pada saat itu masih masa-masa orientasi Mahasiswa, aku berusaha mencari informasi tentang Bidik Misi, dan Puji Tuhan UNNES membuka gelombang terakhir untuk Bidik Misi dengan kuota 80 kursi, dan informasi itu pun hampir terlambat. Aku bertanya tentang persyaratan pun langsung ke Mas Doni (Presiden Mahasiswa UNNES) via sms, dan saat itu juga saya diminta ke pusat (Semarang) untuk menyetorkan berkas karena pendaftaran sebenarnya sudah terlambat dan sudah akan dilakukan survei ke masing-masing rumah pendaftar, disitulah aku merasakan Pertolongan Tuhan tepat pada waktunya, Mas Doni mempersilahkanku untuk menyetorkan berkas dan diberi waktu 3 hari.
Posisiku sedang OKPT dan tidak bisa pulang ke rumah (Cilacap), dengan segera aku menelfon ibuku untuk menyiapkan berkas-berkasnya lalu kemudian dikirim langsung via pos ke UNNES pusat.

Singkat cerita, semuanya berjalan dengan lancar, apa yang aku inginkan menjadi kenyataan. Bidik Misiku tembus, ini sungguh-sungguh rezeki yang Tuhan beri kepadaku, kepada keluarga kami. Aku sangat bersyukur sekali, dan sekaligus bangga karena bisa menjadi teladan bagi adik-adikku, tetangga sekitar rumahku dan saudara saudariku. Dan aku bisa bertanggungjawab dengan apa yang aku katakan kepada ibuku, yaitu akan mengembalikan uang pangkal yang telah ibu talangi terlebih dahulu. 

Jika bukan karena Bidik  Misi, mungkin aku selamanya akan menjadi “tukang jualan kerupuk”.
Bidik Misi, yang memebuatku tak pernah berhenti untuk bermimipi.
Bidik Misi, yang membuat mimpiku berubah menjadi kenyataan.
Bidik Misi, yang membuatku semakin terpacu dalam berprestasi, IP pertamaku Puji Tuhan mencapai 3.52, sebuah awal yang baik. Semoga kedepannya aku bisa meningkatkan prestasiku.
Terimakasih Bidik Misi.

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Aku dan Bidik Misi Rating: 5 Reviewed By: Harian Blora